Meraba-raba dalam Gelap

Kolom

Ketika akhirnya saya meninggalkan Istanbul melalui bandara Sabiha Gokcen yang jauh dan tidak terkenal, saya merekap hari-hari di Turki sambil menunggu pesawat ke Amsterdam. Di antara sekian banyak impresi, informasi, dan drama, satu yang menggelitik pemikiran saya waktu itu adalah: betapa susahnya mencari sinyal wifi. Bahkan di bandara ini sekalipun! Dan, dalam pada itu saya teringat pada jam-jam yang saya lewatkan dalam isolasi, ketidakpastian, keterputusan, dan keterasingan, di suatu terminal metro antah-barantah di pinggiran Istanbul pada malam Idul Adha.


Secara umum, bepergian di Eropa, terutama Eropa Barat, selalu dimudahkan oleh dua hal: familiaritas penggunaan bahasa Inggris dan kemudahan akses wifi gratis. Di terminal ini, kedua hal tersebut nyaris tidak saya temui. Saya hanya dibekali satu tiket, yang berbahasa Turki. Yang bisa saya duga dari tiket itu hanya jam keberangkatan bus, nomor polisi bus, dan gate tempat bus itu akan parkir. Aman, pikir saya. Seharusnya. 

Lima belas menit sebelum jadwal keberangkatan saya mulai mengecek bus yang akan saya tumpangi, tetapi di gate yang tertera, bus yang parkir tidak bernomor polisi sesuai. Saya mulai mencari dengan panik, dari satu gate ke gate yang lain, tetapi nihil. Orang-orang yang saya tanyai tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya bilang bahwa busnya mungkin telat. 

Baiklah, saya menunggu. Kebetulan Idul Adha dijadikan momen untuk mudik sehingga banyak orang berada di terminal pada jam sepagi itu. Perut saya sudah keroncongan tapi uang Lira saya tinggal sedikit. Saya harus berhemat kalau-kalau saya harus menunggu sampai besok. Atau kalau saya ketinggalan bus, sedangkan di sini tidak ada tempat penukaran uang. Berkali-kali saya mencoba mencari dan mencari lagi wifi kendati tahu tidak akan berhasil. Saya menyerahkan sepenuhnya diri saya pada nasib. Saya tidak tahu apakah bus ke Ankara sudah berangkat atau belum. Dan, jika pun belum, atau saya salah naik, saya mungkin harus menemukan opsi-opsi lain untuk mengontak rekan. 

Satu demi satu bus datang dan pergi, orang-orang kian lama kian sedikit. Satu jam berlalu, kemudian dua jam. Bus yang sesuai dengan tiket yang saya pegang masih belum juga kelihatan. Apakah saya tertinggal bus? Bagaimana nasib saya selanjutnya? Bagaimana kalau ada seorang jahat, preman terminal, misalnya, yang tiba-tiba tertarik untuk membunuh saya? Tidak akan ada yang tahu. Saya bisa saja dibuang ke suatu ngarai gelap, mungkin ditemukan beberapa kemudian sebagai ‘orang asing’ ‘entah siapa’ yang ‘keluarga’nya berjarak bermil-mil jauhnya dari lokasi kejadian. (Efek terlalu banyak nonton film thriller, sepertinya—atau kebanyakan nonton sinetron?)

Jika saja saat itu pengetahuan saya sudah sampai ke ‘hari ini’—hari ketika saya menunggu pesawat ke Amsterdam—saya akan haqqul yaqin untuk keep calm dan tidak perlu mati-matian berhemat. Saya bisa tenang setenang-tenangnya. Akan tetapi, pengetahuan kita senantiasa terbatas, ‘jarak-pandang’ kita juga demikian. Kita tidak selalu punya pengetahuan yang utuh tentang masa depan kita—bahkan pada jarak, katakanlah, satu jam ke depan. Kita, pada akhirnya selalu dan tak akan pernah berubah, adalah makhluk yang terjaga di pekat malam. Kita butuh menyalakan lilin, berjalan tertatih-tatih, meraba-raba dalam gelap, memperjalani setapak waktu. 

Oleh sebab saya percaya bahwa hidup juga, sebagaimana kata Nabi, adalah suatu perjalanan, maka, apakah mungkin kita memperjalani hidup ini sebagai seorang yang, juga, meraba-raba dalam gelap? Sialnya, boleh jadi, ya. Pengetahuan kita selalu terbatas. Kita tidak bisa mengetahui segalanya. Akibatnya, kita senantiasa berada pada posisi trial and error. Kebenaran yang kita yakini hari ini kadang kita bantah esok lusa. Berkah yang kita bangun hari ini kadang sebetulnya merupakan embrio bencana untuk hari esok. Misalkan, kita sempat menepuk dada dengan kemampuan kita mengubah raw material kayu di hutan menjadi berjenis-jenis produk. Kemudian ketika alam tidak seimbang dan erosi-banjir dan bencana datang, kita ngeh bahwa boleh jadi selama ini kita sebenarnya melakukan kekeliruan semata.

Di sinilah, kiranya,  letak watak manusia sebagai mahallul khatha’—tempatnya salah. Kita tidak punya prior knowledge yang utuh tentang (ke)diri(an) kita pun tidak mampu mengetahui segalanya. Namun demikian, hal tersebut bukan semata karena keterbatasan kemampuan berpikir kita melainkan karena hal-hal baru tercipta terus-menerus. Segala sesuatu seperti rahim yang meluas, seperti janin yang bertumbuh. Bahasa mengembang sebagaimana langit. Kata-kata baru ditemukan. Istilah-istilah lama dilupakan. Masalah-masalah datang dan pergi. Dan, kita menemukan diri kita berjibaku di antara dinamika tersebut. 

Memang idealnya kita bisa belajar dari kesalahan, secara cepat dan tepat, sehingga Rasul bilang bahwa yang jatuh ke lubang yang sama sebanyak dua kali hanya keledai. Hanya saja, akseleratifnya perkembangan segala sesuatu membikin kita ‘terbiasa’ jatuh berkali-kali di kesalahan yang serupa. Kita  sering secara a-sadar terbawa arus dari ombak yang kita ciptakan sendiri. Jika tidak secara individu, maka secara keseluruhan ras manusia. Korupsi, politisasi dan komodifikasi agama, perselingkuhan, pem-PHP-an, pengkhianatan, keserakahan, you name it. Semua itu telah ada sejak generasi awal ras manusia. Terlepas dari fakta bahwa kita mengutuk hal-hal buruk tersebut, kita tidak bisa memungkiri kelestarian mereka dalam sikap hidup dan peradaban kita. 

Kita, ras manusia, senantiasa berkubang di lubang yang sama sepanjang usia kemanusiaan kita. Boleh jadi memang hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama sebanyak (maksimal) dua kali, karena manusia lebih sering butuh ratusan dan ribuan kali untuk jatuh. Dan, itu mungkin saja berhubungan dengan apa yang disebut Kierkegaard sebagai angest atau angst. Yaitu, situasi yang di situ kita dihadapkan pada banyak pilihan yet kita tidak punya cukup waktu dan pengetahuan untuk menguji setiap pilihan tersebut secara bijak.

Irfan L. Sarhindi, Pengasuh Salamul Falah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *