Di Manakah Mata Angin Kesenian Kita? – (Bagian 1)

Kolom

“Tanpa seni tak ada subjek kreatif, tanpa seni tak ada dunia.” Sebuah aporia yang tampaknya perlu kita ingat sekali lagi: seni juga bekerja di dalam ilmu pengetahuan. Dan, andai kita sedikit berani membayangkan ide Benjamin mengenai bahasa yang tak ubah “kata-kata rahasia” itu, barangkali aporia ini berarti segala-galanya.


“Ilmu pengetahuan adalah seni mengurai”, kata Peter Medawar, seorang ahli biologi yang juga bapak transplantasi dunia kedokteran modern. Ilmu pengetahuan, kendati hanya dapat didefinisikan dalam waktu dan konteks dan/untuk permasalahan tertentu, dalam lanskap zaman ketika ia dijadikan acuan untuk segala hal-ihwal dan tindak, tetaplah satu bidang yang sama dengan seni. Satu di antara banyak bidang yang mengandaikan imajinasi sebagai modus pencarian; entitas yang punya andil sebagai poros dalam gerak peradaban. Perbedaannya, ilmu memiliki proporsionalitas dalam menggenapi imajinasinya melalui logika dan data; sedangkan seni nyaris tak ada apa-apa selain “gambar dunia” untuk diimajinasikan.

Kita tahu, logika dan data, alih-alih membuat ilmu pengetahuan jadi satu-satunya sumber kebenaran, dalam pandangan Karl Popper, malah membentuk sebuah impresi bahwa keduanya dirujuk sejauh kita meletakkannya sebagai dugaan.  Akan tetapi, juga yang agaknya penting untuk dicatat, jika kita menganggap bahwa ilmu pengetahuan telah berkembang atas dasar sifatnya yang menduga-duga, manakala hipotesis dijadikan subjek pembuktian eksperimental dalam proses penciptaan dan pengujian sebuah teori, kita tentu harus mempertimbangkan pendapat bahwa realitas ada selagi ia merupakan maujud yang terpikirkan. Di sini, debat yang terjadi dalam wilayah filsafat bahasa mengenai inferensial dan non-inferensial, apakah sebuah karya seni (terkhusus sastra) punya unsur denotatif sehingga dapat dijadikan acuan dan bukti ilmiah, bukan saja penting untuk dipertimbangkan, melainkan juga jalan keluar dari belenggu positivisme (sebuah model pengetahuan yang mengasumsikan akal layaknya alat keras, sebagai godam; dan imajinasi adalah laku murtad).

Semua disiplin yang memaklumatkan diri mereka sebagai “ilmu” memiliki satu kesamaan: mereka bertujuan menemukan hukum-hukum universal yang mencakup pelbagai fenomena. Di ilmu alam misalnya, setiap proposisi dibangun dengan dua modus, yakni modus ponens dan modus tollens. Ilmu sosial, walaupun mengembangkan basis epistemologinya dalam paradigma yang lebih variatif dan relatif lebih longgar, tetap tak pernah bisa lepas dari ambisi terhadap kepastian mutlak yang ditawarkan logika formal. Di ilmu sosial, perkembangannya ditandai oleh debat, penentuan mana yang dapat dikatakan sains dan non-sains. Kendati beberapa kalangan beranggapan bahwa perkembangan ilmu sosial di abad XX diilhami psikoanalisis Freud, sebangun metode yang berupaya mengeksplorasi ceruk-ceruk terdalam dari psikis manusia yang memang acak, ilmu sosial masih tetap merupakan “definisi generik” sekaligus “pembentuk” pelbagai varian teoretik yang berkembang dalam wilayah kajian sosio-humaniora seperti halnya yang dikemukakan tokoh-tokoh macam Bryan S. Turner dan John Scott.  Lebih jauh lagi, Turner dan Scott percaya, bahwa ada satu disiplin yang memang dan akan selalu jadi garda depan di dalam ilmu sosial, yakni sosiologi.

Sosiologi adalah anak kandung dari Renaisans. Ketika Giambatista Vico mengumandangkan Scienza Nuova (The New Science) di abad XVIII, ketika filsafat sudah cukup mapan untuk memisahkan diri dari teologi dan tegak di atas suatu paham heliosentris ala Galilleo, sosiologi sudah berupa embrio. Sosiologi menemukan fondasi epistemologinya persis ketika gong pemberontakan intelektual kali pertama dibunyikan di fajar Renaisans: sejak Miguel de Cervantes mengolok-olok mentalitas medium aevum (abad pertengahan) dengan menulis Don Quixote; Sir Thomas More yang menemukan istilah Utopia yang kelak jadi kelakar masyhur orang-orang sezaman dan memelesetkannya dengan Ethiopia; Martin Luther dengan 95 tesisnya berhasil mendiseminasi penafsiran Alkitab hingga mengilhami gerakan massal kaum petani di seantero Eropa; protes seorang bidah, Giordano Bruno, manusia yang dianggap menampik ajaran gereja dalam karyanya De la Causa, kering terbakar oleh setumpuk jerami di alun-alun Campo kota Fiore, Roma.

Renaisans adalah fragmen zaman yang tak cuma memiliki arti penting atas wajah dunia modern, tetapi juga bagi sains secara keseluruhan. Keduanya berpijak dalam satu asas terukur (maka itu juga terbatas): akal. Sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, ilmu sosial dan/atau sosiologi menetapkan dirinya sebagai suatu rumpun ilmu yang terus-menerus menjanjikan ‘kebaharuan’ dalam memandang realitas. Kemunculan dan perkembangan sosiologi sampai hari ini dapat dirangkum sebagai penolakan demi penolakan terhadap pandangan-pandangan usang mengenai realitas dengan satu keyakinan pasti: realitas terus berubah.

Sosiologi, demikian Comte percaya, dapat menjadi obat mujarab dalam mempersiapkan masyarakat Prancis abad XIX menjadi masyarakat industrial. Lewat suatu perhitungan Positif , Comte memandang, sosiologi merupakan opsi jitu dalam mereformasikan mentalitas masyarakat Prancis yang pada masa itu memang dikondisikan untuk mengakselerasi industrialisasi. Sejak saat itu keyakinan positivisme terhadap totalitas pengetahuan menjadi ruh yang menggerakkan perkembangan paradigma-paradigma di ilmu sosial, menjadi domain korelat dalam membandingkan pelbagai model pengetahuan yang sebelumnya sudah ada, menentukan apakah suatu pengetahuan merupakan sains atau non-sains. 

Tentu saja bukan tanpa konsekuensi. Karya-karya sastra misalnya, dikategorikan sebagai teks yang tidak relevan untuk dikaji secara ilmiah karena bahasanya yang sarat metafor. Wittgenstein, dalam Tractatus Logico-Philosophicus, melihat sumber persoalan ini disebabkan oleh gagalnya ilmu pengetahuan memisahkan diri dari metafisika.  Wiitgenstein menukik tajam, membawa perbincangannya ke pusat permasalahan dengan memilah “diam” dan “bicara”. Dalam pandangan Wittgenstein, kita harus memeriksa sifat “terputus” relasi objek-objek, antara proposisi ilmu alam di satu sisi dan filsafat di sisi lain, dan menekankan makna konotatifnya pada subjek-metafisis.

Artinya, pertama, dalam kaitannya dengan topik yang saya bicarakan di atas, berpulangnya segala presentasi dan apa-yang-tampak kepada subjek akan selalu bermuara pada dua pengertian: bermakna atau tidak bermakna. Asumsinya, dengan kategori ini segala model kanonisasi dapat dibongkar dan ditelaah ulang. Di sini label mana karya yang ilmiah atau tidak ilmiah bukan saja tak relevan lagi, tetapi juga keharusan mendestruksi nilai sebuah karya. Kita tak bisa bersikap seakan-akan ada karya yang berasal dari dunia di luar pemahaman subjek, dari dunia lain, sepenuhnya tanpa makna.

Dengan kata lain, bermakna atau tidak bermakna sebuah karya yang sarat daya dan gaya metafor seperti yang ada di dalam karya-karya sastra, tak dapat disimpulkan semata-mata dengan model pembacaan literal atau identifikasi denotasinya saja. Kita tentu perlu membaca lebih jauh karya-karya penulis bila harus memberikan nilai pada setiap karyanya, sebagaimana kita juga harus menakar kedalaman dan keluasan pemahaman pembaca. 

Kedua, prinsip verifikasi. Beroperasinya modus ponens dan modus tollens yang khas dalam positivisme mengakibatkan sastra yang sarat metafor dikatakan tidak ilmiah sehingga masuk dalam kategori non-sains. Bahasa yang metaforistik itu diasumsikan hanya memiliki peran dekoratif di dalam karya sastra. Alih-alih membawa terang penjelasan, bahasa metaforistik dianggap justru menghalau arti dan makna untuk setiap argumentasi – mengawang-awang; tidak prediktif. Tapi, dan yang barangkali mesti kita pertanyakan, apakah prinsip verifikasi itu juga dapat diverifikasi? 

Pada 22 dan 23 Maret 2011, di Universitas Siegen (Jerman), telah diadakan sebuah konferensi internasional dengan tajuk “The Problem of Relativism in the Sociology of (Scientific) Knowledge.” Diadakannya konferensi ini didorong oleh persoalan posisi relativisme di dalam ilmu sosial yang dalam waktu lama memang kabur (bahkan membingungkan). Terhitung sejak Willard van Orman Quine menerbitkan magnum opus yang berjudul Two Dogmas of Empiricism, Thomas Kuhn dengan karyanya The Structure of Scientific Revolutions, Tractatus Logico-Philosophicus, dan On Certainty milik Wittgenstein terbit, mereka yang hadir dalam konferensi tersebut percaya bahwa spirit saintisme yang meletup-letup itu telah mencacati ilmu sosial seiring beralihnya lokus ilmu sosial ke dalam persoalan subjek dan bahasa. Singkat kata, dengan berpegang pada asas homo mensura (manusia adalah ukuran segala sesuatu) yang dikumandangkan Plato, ilmu pengetahuan telah dimanipulasi dan tak pernah netral. Kembalinya segala jenis pengetahuan ke dalam yang-politis membawa serta “beban-inkoherensi”  yang menyebabkan subjek-pengetahuan seketika berubah jadi objek-pengetahuan. Kekhawatiran terbesar mereka yang hadir dalam konferensi ini adalah kenyataan bahwa kini ilmu sosial tak lagi punya visi emansipatoris.

Di satu sisi, apa yang sebelumnya kerap diasumsikan sebagai “pengetahuan sosiologis” hanya mungkin ada sejauh komunitas terkait menetapkan sebuah kriteria dan tipologi (syarat yang dicantumkan dalam setiap agenda kanonisasi). Di sisi lain, melalui bahasa, distribusi pengetahuan berlangsung dalam kaedah-kaedah retoris. Bergesernya tema kajian filsafat ilmu ke ranah subjek dan bahasa pada paruh abad 20 telah memperlihatkan bagaimana prinsip “verifikasi” itu sinonim dengan “kesepakatan” yang memang acap dipelintir. Pada titik inilah retorika mendapatkan perannya: menempatkan posisi kebenaran hanya sebagai “efek” dari interaksi dialektis kehidupan berbahasa.

Yang jadi soal: mempertanyakan kesahihan sebuah sains mengharuskan siapa saja untuk merelatifkan kebenaran yang sebelumnya telah dibangun, terendap dalam bangunan ontologi dan epistemologi setiap disiplin. Hal ini mengisyaratkan bahwa persoalan kesahihan suatu pengetahuan tak cuma dapat dipersoalkan dalam kerangka “evaluasi empirik”, melainkan juga menyasar ke dalam – apa yang saya sebut – wacana epistemik. Realitas tak cuma mencakup objek-materil yang dapat kita lihat dan amati, tapi juga apa yang ada di dalam khazanah pikiran. Dalam arti yang lebih spesifik, memikirkan realitas sama halnya dengan kesediaan untuk membicarakan realitas. Singkata kata, mengoreksi kesahihan sebuah pengetahuan dalam pakem-pakem akal terukur, berarti kesediaan untuk mengapropriasi realitas ke dalam khazanah linguistik.

Kita tentu ingat apa alasan Benjamin menempatkan bahasa sebagai preseden dari keseluruhan bangunan realitas. Bahasa, dalam pandangan Benjamin, ialah cara manusia dalam memahami dunia melalui aktivitas penamaan, terpaut erat dengan bagaimana sebuah kenyataan hadir dan menyingkapkan diri kepada kita. Maka, fungsi mendasar dari bahasa adalah kemampuan transformatifnya dalam mengkonstruksikan realitas ke dalam fragmen-peristiwa sebagai gejala serba hadir. Dalam konteks inilah kita perlu melihat bahwa inti persoalan bahasa terletak pada sifatnya yang metaforistik.

Dalam Poetika, Aristoteles mengatakan bahwa “metafor” pada dasarnya merupakan aktivitas penamaan terhadap sesuatu yang sebetulnya milik sesuatu-yang-lain. Ialah transferensi dari genus ke spesies, kata Aristoteles, melulu mencakup permasalahan analogi. Metafor dimengerti sebagai epiphora; semacam transposisi “dari… ke…”. Ia seperti sebuah nama asing yang kita lekatkan pada sesuatu yang sebelumnya sudah punya nama. Semua nama atau kata atau istilah yang kita lekatkan dan kemudian menjadi barometer dunia-objektif adalah hasil rekayasa manusia – kadang juga tak berkaitan dengan fakta, bukan bikinan alam. Jika seorang Darwinisme percaya bahwa manusia mula-mula adalah kera, dapatkah mereka bayangkan bagaimana dunia sebelum bahasa itu ada? Masih dapatkah mereka katakan bahwa tempat duduk berkaki dan punya sandaran itu adalah kursi?

Saya menemukan dalam pandangan Ricoeur persoalan metafor menjadi persoalan mendasar dalam realitas kebahasaan sehingga dapat dilihat secara gamblang peran vitalnya. Ricoeur bukan saja berhasil mengatasi sifat oposisional antara semiotika (kata/simbol) dan semantika (kalimat) dalam bahasa yang telah dimulai oleh Dilthey, yang dalam tradisi Fregean disebut Sinn (akal) dan Bedeutung (referensi atau denotasi). Ricoeur menawarkan suatu model pendekatan ’tensional’ truth.  Ricoeur berasumsi, makna sebuah metafor tak cuma dapat dipahami dalam struktur semiotika-kata ataupun semantika-kalimat, melainkan dari “wacana” yang tersematkan di dalam teks, yang tak lain merupakan lanskap dari keseluruhan “struktur karya”. Jika kemudian yang sering diperdebatkan adalah sifat subtitusional yang sewenang-wenang bahasa metafor, bahwa setiap model metafor seringkali terjerat pada “kesalahan kategori” yang mengakibatkan hancurnya tatanan logika-linguistik, bagi Ricoeur, justru di situlah letak keistimewaan bahasa metafor.

Metafor tidak hanya membangun suatu tatanan logika baru dari suatu kata atau ungkapan, namun sekaligus mendekonstruksi realitas yang di-“gambar-ulang” melalui kekeliruan dan cacat linguistik yang dibawa serta olehnya. Jika Fregean menuduh karya sastra adalah sekumpulan teks yang hanya mengacu pada “makna”, tanpa “acuan” yang jelas sehingga masuk dalam kategori non-sains (yang juga berarti tak pantas dijadikan rujukan dalam memahami kenyataan) , Ricoeur menjawab, “maknanya adalah struktur karya, sedangkan acuannya adalah ‘dunia’ yang ditampilkan karya tersebut.”  Teks yang ada di dalam karya sastra merupakan “disposisi” dengan jenis kodifikasi yang khas, “genre yang menganyam domain praxis dari sebuah teks,” dan oleh karenanya “tak dapat direduksi oleh kategori teoritis.” 

Dengan demikian, dapatlah kita mengerti mengapa Ricoeur berpandangan bahwa bahasa metafor itu tak ubah teks yang terekslusikan di dalam ‘tensional’ truth. Titik fokus metafor pada “kopula” yang mengandaikan sesuatu adalah ini dan itu, “adalah seperti” dan “adalah bukan”, merupakan cara untuk mensupremasikan aspek ambiguitas dalam bahasa agar memungkinkan dilakukannya refleksi tatkala kita hendak meng-gambar-ulang kenyataan. Sebab, referen objektif yang menjadi dalil ilmu pengetahuan dalam menginvestigasi teks, bukannya membuat realitas menjadi kaya makna, malah menjadi kungkungan terhadap realitas itu sendiri. Hal ini mengakibatkan setiap pembacaan terhadap sebuah teks kerap terjebak dalam batas-batas definitifnya – dengan asumsi: realitas sudah mati sejak kali pertama dipahami secara literal.

Gagasan di atas rasa-rasanya kongruen bila kita bandingkan dengan keyakinan epistemologis ilmu sosial yang mengasumsikan bahwa tak ada yang lebih kekal ketimbang perubahan yang terjadi di dalam realitas itu sendiri. Terutama sekali jika kita menengok apa yang dicanangkan “Trinitas Suci”, peletak epistemologi dan model paradigmatik di dalam ilmu sosial: dialektika materialisme Marx yang mengandaikan realitas harus “diubah”; keyakinan Durkheim yang menganggap manifestasi “fakta sosial” tak pernah beku; sikap melankoli Weber soal rasionalitas dunia modern yang serupa “kerangkeng besi”.

Robi Mardiansyah, penulis lepas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *