Abu Al-Hasan Al-Asy’ari; Dari Mu’tazilah ke Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah

Kolom

Dalam khazanah ilmu kalam atau teologi Islam, salah satu tokoh yang paling populer karena pemikiran dan pendapatnya ialan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari atau yang lebih dikenal sebagai Imam Al-Asy’ari. Dialah tokoh yang kepadanya dinisbatkan mazhab Asy’ariyah dalam hal ilmu kalam. Bahkan, pemikiran-pemikirannya menjadi salah satu simpul penting dalam doktrin Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah, selain Abu Al-Manshur Al-Maturidi (Imam Al-Maturidi).


Namanya ialah Ali bin Ismail bin Abi Basyar. Pendapat lain mengatakan bahwa namanya ialah Ishaq bin Salim bin Ismail. Jalur silsilahnya bersambung pada Abu Musa Al-Asy’ari, salah seorang sahabat Rasulullah Muhammad Saw yang terkenal dengan kealimannya. Pernah suatu ketika, Abu Musa ini menjadi delegasi dari kubu Ali bin Abi Thalib dalam arbitrase (tahkim) dengan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan. Sementara itu, dari kubu Muawiyah, Amr bin Al-‘Ash diutus sebagai delegasi untuk berunding dengan Abu Musa. Sayang sekali, Abu Musa terlampau ‘saleh’ dalam urusan politik sementara Amr ialah politikus ulung yang mengambil kesempatan dari kelengahan Abu Musa. Merasa tersudut dengan hasil arbitrase, Abu Musa malu untuk menghadap Ali sehingga dia pergi ke Mekkah untuk mengasingkan diri.

Kembali kepada Abu Al-Hasan Al-Asy’ari. Dia lahir pada 260 H/873 M ketika mazhab Mu’tazilah menancapkan akar-akar pemikirannya dalam masyarakat secara kuat. Terlebih lagi, tiga khalifah Dinasti Abbasiyah mewajibkan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi. Mereka itu ialah Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Pada masa Al-Asy’ari, Mu’tazilah sudah tidak lagi menjadi mazhab resmi negara meskipun mazhab tersebut sudah mengakar begitu kuat.

Lebih dari itu, Al-Asy’ari sendiri terdidik dalam doktrin Mu’tazilah. Gurunya yang paling utama ialah Abu Ali Al-Jubbai, tokoh Mu’tazilah kenamaan yang menjadi panutan dalam teologi Mu’tazilah. Tidak lain dan tidak bukan bahwa Al-Jubbai ialah tokoh yang berpengaruh dalam diri Al-Asy’ari karena hubungan mereka teramat dekat; Al-Jubbai merupakan ayah tiri dari Al-Asy’ari. 

Sejak kecil, Al-Asy’ari tumbuh dalam pengasuhan dan didikan Al-Jubbai. Ketika dewasa, kecerdasan Al-Asy’ari pun tampak dalam menangkap seluruh doktrin Mu’tazilah. Al-Jubbai lantas memercayakan majelisnya kepada anak tirinya tersebut ketika dia berhalangan hadir memberikan ceramahnya. Hal itu mengindisikan bahwa Al-Asy’ari bukan sosok sembarangan mengingat dia mendapatkan kepercayaan langsung dari sang guru besar Mu’tazilah kala itu, Al-Jubbai.

Ketika usianya hampir mencapai 40 tahun, Al-Asy’ari justru mengalami fase keragu-raguan dalam mazhab yang dianutnya. Oleh karena itu, dia sering merenung dan semakin intens dalam mengkaji mazhabnya itu. Diskusi pun sering terjadi antara dirinya dengan gurunya sekaligus ayah tirinya, Al-Jubbai.

Hingga pada suatu ketika, selama sekitar 15 hari Al-Asy’ari mengurung diri di kediamannya. Di waktu-waktu itulah metamorfasis pemikirannya tampak sangat signifikan. Pada awalnya dia menganut Mu’tazilah, namun justru pada 15 hari menentukan itu kepercayaannya terhadap mazhabnya sendiri justru luntur. Setelah 15 hari terlewati, pemikiran-pemikirannya pun berubah secara drastis meninggalkan doktrin Mu’tazilah.

Mu’tazilah merupakan suatu mazhab yang bukan tak mempunyai andil besar. Mu’tazilah berkontribusi sangat besar dalam membela pemikiran-pemikiran Islam dari berbagai aliran filsafat yang bertentangan. Mazhab Mu’tazilah pun berhasil memberikan ruang yang sangat longgar bagi para pemikir sehingga kebebasan berpikir mendapatkan tempatnya. Pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam juga merebak begitu pesatnya ketika Mu’tazilah bertengger di puncak popularitasnya.

Mu’tazilah merupakan suatu mazhab yang metodologinya banyak mengedepankan akal. Oleh karena itu, mazhab ini banyak mengemukakan argumentasi yang rasional untuk menundukkan pandangan-pandangan yang tidak bersesuaian dengan Islam. 

Mazhab ini pernah disambut secara meriah oleh mazhab fikih Baghdad yang terkenal dengan penggunaan ra’y (argumentasi rasional) yang dinisbatkan pada Imam Abu Hanifah (mazhab Hanafiyah). Keduanya bertemu dalam titik kumpul bernama akal. Mu’tazilah mengurai berbagai persoalan teologi berdasarkan kebenaran akal, sementara Hanafiyah mengurai berbagai urusan fikih dengan mengedepankan akal pula (ahl al’ra’y). Keduanya bertemu dalam berbagai dalil ‘aqli

Ada lima doktrin dasar dalam Mu’tazilah. Kelimanya ialah al-tauhid, al-‘adl, al-wa’d wa al-wa’id, al-manzilah baina al-manzilatain, dan amr ma’ruf nahy munkar.

Akan tetapi, keduanya tak selalu sejalan. Hal itu terjadi setelah kemenangan Al-Asy’ari menjembatani antara akal dengan wahyu atau teks. Para penganut mazhab fikih Hanafiyah pun banyak yang meninggalkan Mu’tazilah, beralih mengikuti pemikiran-pemiran Al-Asy’ari.

Di masa Al-Asy’ari, Mu’tazilah menjadi mazhab yang justru kebablasan dalam mengurai berbagai persoalan. Embrionya ialah mazhab Qadariyah, sebuah mazhab teologi yang berusaha ditindas dan dihancurkan di masa Dinasti Umayyah. Akan tetapi, ternyata mazhab tersebut bermetamorfosis menjadi Mu’tazilah di masa Dinasti Abbasiyah, bahkan sempat menjadi mazhab resmi semenjak Khalifah Al-Ma’mun.

Perseteruan yang paling menarik antara Mu’tazilah dengan para pembela Sunnah ialah dalam memahami esensi Alquran, apakah ia qadim (lama/terdahulu) atau hadits (baru/mahkluk). Para pembela Sunnah menyatakan bahwa Alquran itu kalam Allah, jadi ia bukan makhluk. Sementara itu, mazhab Mu’tazilah menyatakan bahwa Alquran itu makhluk, karena selain Allah ialah makhluk, termasuk Alquran sendiri; jika selain Allah itu ada yang bukan makhluk, mungkinkah itu Khaliq, dengan begitu terjatuh pada kesyirikan?

Mu’tazilah berpendapat bahwa Alquran itu makhluk dengan argumentasi bahwa ia terdiri atas huruf dan suara. Huruf dan suara itu makhluk. Oleh karena itu, Alquran yang terdiri atas huruf dan suara pun termasuk makhluk, ia bersifat hadits.

Perseteruan itu meruncing hingga banyak pembela Sunnah yang tersudut oleh rezim yang mengadopsi Mu’tazilah sebagai mazhab resminya. Akan tetapi, terkait persoalan ini, Al-Asy’ari mengemukakan pendapatnya, bahwa jika seseorang itu ingin menulis atau membaca, maka huruf dan suara ialah makhluk tanpa ada keraguan di dalamnya. Lantas, huruf dan suara itu menunjukkan kalam Allah, namun keduanya itu tidak menunjukkan wujud dari kalam Allah.

Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari pun mendapatkan sambutan yang hangat dari umat Islam. Bahkan, pemikiran tersebut kemudian memengaruhi para pemikir generasi berikutnya dan berikutnya hingga kini, seperti Al-Ghazali, Al-Baqillani, dan lain sebagainya.

Lebih dari itu, Al-Asy’ari berhasil membuka kran ilmu tafsir dan hadis secara lebih masif karena semuanya tidak hanya bertumpu pada akal. Akal dan teks (dalil, nas, atau wahyu [Alquran dan Hadis]) memang sudah selayaknya tidak saling bertentangan. Jika ada teks bertentangan dengan akal, barangkali akal telah tercampuri hawa nafsu. Atau, bisa juga nas yang digunakan itu bermasalah, sebagaimana penemuan hadis-hadis lemah dan palsu.

Bangunan Al-Asy’ari dalam bidang ilmu kalam atau teologi Islam itu berhasil mendudukkan akal dan teks secara harmonis. Pada akhirnya, pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari kemudian menjadi rujukan dalam paham Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah. 

Supriyadi, penulis biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *