Konsepsi Al-Hikmah Al-Muta’aliyah Mulla Sadra

Kolom

Perbincangan seputar tema-tema filsafat di dalam Islam agaknya selalu menarik sekaligus menantang untuk dinikmati. Pembahasannya yang menekankan kedalaman untuk mendapatkan pengetahuan tentang realitas segala sesuatu dengan didukung oleh argumentasi, metode, dan logika nalar yang baik disinyalir menjadi faktor utama pentingnya mempelajari filsafat. 


Berangkat dari asumsi itu, secara garis besar tulisan ini akan mencoba untuk memperbincangkan salah satu topik yang ada di dalam filsafat Islam, khususnya dalam tradisi mazhab Isfahan, yaitu konsepsi Al-Hikmah Al-Muta’aliyah yang dicetuskan oleh Mulla Sadra.

Mulla Sadra, atau Shadr Al-Din Syirazi, merupakan seorang filsuf yang sangat dihormati dalam Islam, namun namanya masih kalah populer jika dibandingkan dengan Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rusyd. Nama lengkapnya ialah Muhammad bin Ibrahim Al-Qawami Al-Syirazi. Dia lazim dikenal dengan “Mulla Sadra” bagi banyak kaum Muslim terutama di Persia, Pakistan, dan India. Mulla Sadra memiliki dua gelar sebagai penghargaan atas kepakarannya: “Shadr al-Din” (ahli agama) dan “Shadr Al-Muta’allihin” (teladan para filsuf Ilahi). Gelar pertama menunjukkan ketinggian derajat di dalam lingkaran keilmuan teologis tradisional, sementara gelar kedua menandakan posisi uniknya di mata generasi-generasi filsuf yang datang setelahnya.

Mulla Sadra lahir di Syiraz, Persia Selatan, pada 979 H/1572 M dari sebuah keluarga yang terpandang. Ayahnya, konon merupakan menteri di lingkungan istana Shafawiyyah yang juga berperan sebagai ulama. Sebelum pada akhirnya menjadi seorang pakar dalam ilmu-ilmu agama dan filsafat, masa muda Mulla Sadra dihabiskan untuk menuntut ilmu. 

Setelah menyelesaikan pendidikan elementer di kota kelahirannya, Syiraz, Mulla Sadra memutuskan untuk pergi ke Isfahan, pusat kekuasaan Shafawiyyah sekaligus sebagai pusat paling penting pendidikan Islam pada abad ke-10 H/16 M. Di sana Mulla Sadra mengawali pelajarannya dengan mendalami ilmu-ilmu Islam tradisional yang biasanya disebut al-‘ulum al-naqliyyah, yang di dalamnya terdapat Baha’ Al-Din Muhammad Al-‘Amili (w. 1031 H/1622 M), seorang mahaguru yang meletakkan landasan bagi fikih Syiah yang baru dan yang didefinisakannya dengan baik. Di bawah bimbingan Al-‘Amili, Mulla Sadra banyak belajar tentang fikih, ilmu hadis, dan tafsir Alquran dalam kerangka tradisi keilmuan Syiah tentunya.

Dalam periode yang sama, Mulla Sadra juga mulai mengkaji apa yang lazim dikenal sebagai ilmu-ilmu olah nalar (al-‘ulum al-‘aqliyyah) di bawah bimbingan salah seorang filsuf Islam paling besar dan orisinal dalam mencetuskan gagasan-gagasannya. Dia adalah Sayyid Muhammad Baqir Astarabadi yang dikenal luas dengan panggilan Mir Damad (w.1040 H/1631 M). 

Mir Damad, guru utama dari Mulla Sadra, merupakan seorang filsuf besar, sedemikian sehingga gelar kehormatan, seperti “khatam al-hukama'” dan “guru ketiga”—setelah Aristoteles dan Al-Farabi—diberikan kepadanya. Berdasarkan hasil penelitian Henry Corbin dan Seyyed Hossen Nasr yang kemudian dikutip oleh Hamid Dabasyi di dalam History of Islamic Philosophy, Mir Damad merupakan tokoh yang sangat dihargai sekaligus dicintai karena dia telah berhasil meletakkan fondasi pertama berdirinya aliran filsafat yang kemudian terkenal dengan sebutan “mazhab Isfahan”. 

Dalam menancapkan fondasi awal mazhab Isfahan ini, Mir Damad tidak sendirian karena ditemani oleh para filsuf yang semasa dengannya seperti Mir Findiriski dan Syaikh Baha’i serta tentu saja muridnya sendiri, Mulla Sadra. Ditinjau dari dimensi genealogis, baik Mir Damad, Mir Findiriski, Syaikh Baha’I, maupun Mulla Sadra, merupakan kelanjutan dari mata rantai paling ujung penerima warisan filosofis dari Ibn Sina, Al-Ghazali, Suhrawardi, dan Ibn ‘Arabi. Dengan demikian, dalam posisinya sebagai ahli waris itulah yang membuat para filsuf Syiah (mazhab Isfahan) periode Shafawiyyah ini berupaya untuk mendemonstrasikan keselarasan utama dan meta-epistemologis dari seluruh diskursus yang terjadi di masa para tokoh filsuf Muslim yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan kata lain, dapat dikatakan juga bahwa tujuan utama dari mazhab Isfahan ialah untuk menjembatani (sintesis) perbedaan pemahaman yang terjadi pada generasi filsuf Muslim terdahulu.

Kembali kepada Mulla Sadra. Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, Mulla Sadra semakin matang sebagai seorang filsuf. Kematangannya diakui karena produktivitasnya dalam menulis, terutama dalam bidang filsafat, keagamaan, dan warisan spiritual Islam. Dalam karyanya yang berjudul The Philosophy of Mulla Sadra, Fazlur Rahman menginformasikan bahwa Mulla Sadra memiliki 32 sampai 33 karya tulis.

Berdasarkan rumusan Majid Fakhry di dalam The History of Islamic Philosophy, Mulla Sadra termasuk dalam kategori filsuf post-Avicennaian yang hidup di tengah-tengah perseteruan antara filsafat peripatetik dan illuminasi. Ciri khas dari aliran filsafat peripatetik ialah kecenderungannya dalam mengikuti mazhab Aristotelian ketimbang Platonian. Tokoh utama dalam mazhab pemikiran ini ialah al-Farabi dan Ibn Sina. Karakteristik aliran filsafat peripatetik merupakan penggunaan argumentasi yang bersifat rasional (burhani) ketimbang intuisional (‘irfani) atau teologia (kalam). Juga, penggunaan deduksi rasional (silogisme), pendasaran pada premis kebenaran primer, fokus pada penelaahan eksistens qua eksistens, serta, mengutip Murtadha Muthahhari yang sebelumnya dikutip oleh Muksin Labib, memunculkan problem eksistensialisme (ashalat al-wujud) versus esensialisme (ashalat al-mahiyah), dan seterusnya.

Pada perkembangan selanjutnya, muncul aliran baru bernama iluminasionisme (isyraqiyyah) yang diusung Syihab Al-Din Yahya Al-Suhrawardi (w. 567 H/1191 M). Kehadiran filsafat iluminasi sendiri bertujuan untuk mengkritisi pandangan kaum peripatetik yang menyimpang dan sudah sangat mapan pada masanya, terutama doktrin-doktrin dari Ibn Sina (w. 429 H/1037 M), ilmuwan besar Islam dan guru besar filsafat peripatetik. Filsafat iluminasi mengembangkan sebuah pandangan tentang realitas yang di situ esensi lebih penting ketimbang eksistensi, dan pengetahuan intuitif lebih signifikan ketimbang pengetahuan saintifik. Dengan kata lain, pengetahuan rasional saja tidak memadai dan harus disempurnakan oleh pengetahuan intuitif. Aliran iluminasi ini pada perkembangan berikutnya diidentifikasi sebagai sebuah aliran yang memiliki kemiripan dengan mistisisme Islam.

Aliran sejarah filsafat Islam lalu mengalir dalam suasana perdebatan yang cukup tajam dengan dinamika kehadiran mazhab yang beragam sesuai pola, mode of argumentation, metode, dan orientasi filosofis masing-masing. Di satu sisi ada anggapan bahwa keyakinan mistisisme dalam hal penggunaa akal budi menjadi satu-satunya cara dalam mencapai kebenaran ilmu pengetahuan. Di sisi lain muncul anggapan tandingan bahwa kebenaran tersebut justru harus dapat diungkapkan dan diverifikasi lewat suatu perumusan secara diskursif-demonstrasional. Dari perdebatan yang sengit inilah kemudian muncul Mulla Sadra, seorang yang berasal dari Persia Selatan sebagai pihak yang mencoba melanjutkan visi dari mazhab Isfahan, yakni merumuskan arah baru filsafat Islam dengan gagasan filsafatnya yang kemudian disebut Al-Hikmah al-Muta’aliyah (Transcendent Theosophy).

Pada gilirannya, timbul pertanyaan secara spesifik, apa sebenarnya hakikat dari Al-Hikmah Al-Muta’aliyah ini? Secara sederhana, Al-Hikmah Al-Muta’aliyah dapat dipahami sebagai suatu konsepsi yang dirumuskan untuk menghimpun dan mengintegrasikan pandangan filsafat dari setiap aliran yang telah ada di masa sebelumnya. 

Jika dilihat dari segi penggunaan katanya, ungkapan Al-Hikmah Al-Muta’aliyah terdiri atas dua istilah, yaitu al-hikmah yang dalam perspektif ini merupakan kombinasi dari filsafat, iluminasionisme, dan sufisme. Sementara itu, al-muta’aliyah berarti tinggi, agung, atau transenden. 

Jika dilihat dari segi komposisinya, konsepsi filsafat dari Mulla Sadra ini terbentuk dari empat aliran pemikiran dalam Islam: 1) teologi dialektik (‘ilm al-kalam), 2) peripatetisme (masysya’iyyah), 3) iluminisme (isyraqiyyah), dan 4) sufisme/teosofi (tashawwuf atau ‘irfan). Berkaca dari komposisi tersebut, Fazlur Rahman menyatakan bahwa, “melalui Al-Hikmah Al-Muta’aliyah, Mulla Sadra telah melakukan sintesis yang orisinal dan solid atas arus-arus pemikiran yang sebelumnya selalu dipandang saling berlawanan.” Perpaduan dari keempat elemen tersebut kemudian menghasilkan tiga prinsip utama yang menopang tegaknya Al-Hikmah Al-Muta’aliyah, yaitu intuisi intelektual (kasyf, dzauq, atau isyraq), penalaran dan pembuktian rasional (‘aql, burhan, atau istidlal), serta agama atau wahyu (syar’).

Kerja keras Mulla Sadra telah mengantarkan filsafat Islam menuju babak baru. Melalui metode Al-Hikmah Al-Muta’aliyah, seseorang akan dituntun untuk mendapatkan pengetahuan tentang realitas segala sesuatu secara mendalam dan komprehensi serta yang paling penting tidak bertentangan dengan rasionalitas dan idealisme agama. Dengan demikian, secara singkat dapat dikatakan bahwa Al-Hikmah Al-Muta’aliyah merupakan filsafat Islam dalam arti yang sebenarnya.

Bakhtiar Yusuf, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *