Harmonisasi Akal dan Intuisi Menurut Seyyed Hossein Nasr

Kolom

Seyyed Hossein Nasr merupakan salah satu tokoh penting dalam filsafat Islam kontemporer. Kehadiran Nasr dalam pergumulan filsafat mencoba memberikan kritikan terhadap filsafat Barat yang tidak menggunakan intuisi sebagai metode dalam ilmu pengetahuan. Menurut Nasr, hilangnya intuisi dalam filsafat Barat itu hilang juga harmoni antara manusia dan alam. Maka dari sinilah manusia harus mengalihkan perhatiannya untuk menemukan kembali signifikansi alam metafisik dan menghidupkan kembali tradisi metafisik di dalam ajaran Kristen dalam pergumulan filsafat Barat.  Seyyed Hossein Nasr merupakan salah satu tokoh penting dalam filsafat Islam kontemporer Seyyed Hossein Nasr merupakan salah satu tokoh penting dalam filsafat Islam kontemporer. Kehadiran Nasr dalam pergumulan filsafat mencoba memberikan kritikan terhadap filsafat Barat yang tidak menggunakan intuisi sebagai metode dalam ilmu pengetahuan. Menurut Nasr, hilangnya intuisi dalam filsafat Barat itu hilang juga harmoni antara manusia dan alam. Maka dari sinilah manusia harus mengalihkan perhatiannya untuk menemukan kembali signifikansi alam metafisik dan menghidupkan kembali tradisi metafisik di dalam ajaran Kristen dalam pergumulan filsafat Barat. 


Tradisi metafisik digunakan sebagai penghubung antara makrokosmo atau realitas ilahi dengan mikrokosmos. Hal ini dikarenakan adanya sebuah hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara realitas ilahi dengan realitas dunia. Apabila hubungan ini telah tiada, maka manusia akan kehilangan kesucian dalam dirinya. Hal ini merupakan sebuah gambaran atas realitas manusia modern yang telah menghilangkan hal yang transenden dari kehidupannya. 

Menurut Nasr, hubungan manusia dan alam diibaratkan hubungan antara mikrokosmis dan makrokosmis. Dalam tradisi Islam, hubungan antara sains alam dan agama dapat ditemukan dalam Alquran. Wahyu yang turun pada manusia tidaklah terpisahkan dari wahyu kosmis yang juga merupakan kitab tentang Tuhan. Namun, pengetahuan yang mendalam tentang alam bergantung pada pengetahuan tentang makna batin teks suci atau penafsiran hermenutik. Sementara itu, kunci dari mengetahui makna batin terletak di dalam takwil, menembus makna lahir ke makna batin Alquran (Seyyed Hossein Nasr, 2003).

Manusia tidak bisa dipisahkan dari alam. Manusia hidup berdampingan dengan alam. Maka dari itu, adanya sebuah hubungan integral antara manusia dan alam. Hal ini dikarenakan tujuan kemunculan manusia di dunia ini ialah memperoleh pengetahuan total untuk menjadi manusia universal. Dengan begitu, manusia sebagai saluran rahmat bagi alam, ia memberikan cahaya ke dalam alam dan keadaan batin manusia akan tecermin dalam tatanan eksternal.

Akan tetapi, adanya reduksi intelek kepada penalaran dan pembatasan intelegensi atas kelicikan dan kecerdikan dalam dunia modern, tidak hanya menyebabkan pengetahuan suci tidak dapat dihubungkan dan bahkan kehilangan makna, tetapi juga menghancurkan teologi natural yang dalam konteks Kristen dihadirkan paling sedikit pada suatu refleksi pengetahuan tentang tatanan suci, hikmah atau sapentia, yang merupakan pusat kesempurnaan dari spiritual dan pembebasan. (Nasr, 1997)

Untuk mengetahui tatanan suci tersebut, terlebih dahulu Nasr memberikan pengertian antara akal dan intuisi. Menurut Nasr, istilah akal digunakan untuk menyatakan nalar (reason) maupun intelek. Akal diartikan sebagai nalar merupakan bagian akal yang paling rendah, yang dimiliki oleh semua orang. Akal ini biasanya disebut akal diskursif yang bekerja mengikuti langkah-langkah logis dengan merujuk pengalaman empirik dunia material. Sementara itu, untuk melihat aspek esensial dari alam atau diri manusia sendiri ialah akal intelek, atau dalam istilah tradisonalnya mata hati. Pengetahuan yang esensial merupakan pengetahuan yang berdasarkan identitas di antara yang mengetahui dan diketahui, dan berdasarkan bahwa yang diketahui itu hilang di dalam api pengetahuan itu sendiri.

Pentingnya mengetahui makna dari akal dan intuisi di sini karena untuk memahami konsep sains sakralnya Nasr. Tanpa adanya pengertian itu juga kita tidak akan paham terkait hubungan antara akal dan intuisi. Dengan kata lain, Nasr menginginkan sebuah perpaduan mencari pengetahuan ilahi dengan cara menggabungkan antara akal, sebagaimana tradisi Barat, dan intuisi, sebagaimana dalam tradisi Timur.  

Maka dari itu, di sini Nasr memberikan sebuah alternatif penghubung antara pengetahuan mikrokosmos dan makrokosmos dengan istilah sains sakral (pengetahuan suci). Sains sakral bukanlah merupakan buah dari spekulasi kecerdasan manusiawi atau penalaran tentang isi suatu inspirasi atau pengalaman spiritual. Lebih dari itu, apa yang diterima melalui inspirasi itu merupakan pengetahuan suci. Sumber sains sakral diturunkan pada manusia menjadi pusat dan akar kecerdasan manusia itu sendiri, yang pada akhirnya pengetahuan tentang substansi pengetahuan, atau pengetahuan tentang awal dan sumber ialah awal dan sumber.

Nasr menegaskan, Sains Sakral bukan hanya milik ajaran Islam yang dikenal sebagai ‘irfân atau gnosis, ia berdiri sendiri, tidak terikat dalam esensinya dengan warna lokal berbagai tempat dan waktu. Ilmu Tertinggi berada di jantung philosophia perennis yang dimiliki juga oleh agama Hindu (dikenal sebagai Eankara), Kristen (dikenal Eriugena). (Nasr, 2010)

Maka dari itu, sains sakral yang digagas oleh Nasr menawarkan kepada masyarakat modern bahwa untuk mentransendenkan tingkah laku manusia baik dengan yang lain maupun dengan alam. Dengan kata lain, upaya Nasr dalam menghubungkan kedua hal tersebut merupakan untuk mengaktifkan kembali akal intuisi sebagai bagian dari dunia filsafat atau metafisik di dunia modern. Tujuannya ialah untuk mengisi ruang kosong yang telah ditinggalkan oleh dunia modern dari segi metafisik.

M. Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *