Gejolak Pasar Perempuan

Artikel

Awal abad ke-21, dunia masih belum lepas dari kungkungan modernitas dan dominasi pasar kapitalis. Dari berbagai sudut di seluruh tubuh kita, di teritori wilayah bangsa-bangsa, sampai kantor parlemen PBB di New York, adakah yang luput dari pengamatan nilai jual-beli? Kapitalisme tidak hanya merebut batas negara, tetapi juga merebut status superioritas dalam perdagangan dan ekonomi dunia.


Hantu kapitalisme yang mendominasi dunia menyebabkan sistem politik dan tatanan sosial berorientasi pada kebutuhan pasar. Perempuan tidak luput dari mata pancing ideologi itu, dan rentan dieksploitasi. Kita bisa melihat seberapa banyak iklan produk yang menggunakan perempuan sebagai bintang untuk menarik perhatian. Atau mengapa harus ada audisi Miss World yang rutin diadakan setiap tahun? Jangan-jangan perempuan memang berada dalam genggaman pasar modern. Sambil menikmati drama yang menggiurkan di era revolusi industri ini, tidak salah jika beristirahat sejenak, membuka kembali dokumen sejarah pergerakan perempuan Indonesia. 

Perempuan Indonesia sudah mengenal emansipasi bahkan sejak sebelum R.A. Kartini dilahirkan. Narasi yang menyebutkan bahwa R.A. Kartini merupakan tokoh emansipasi perempuan tidak sepenuhnya salah tetapi dia pengingat, pengulang dan pembangkit kembali semangat dan hak perempuan Indonesia. Sebelum R.A. Kartini, muncul beberapa perempuan yang sudah berpemikiran progresif, seperti Sultanah Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu (1400-1428 M), pemimpin ke-6 Kerajaan Samudra Pasai. Dia memimpin kerajaan sekaligus dapat memulihkan trauma masyarakat akibat kalah dari Majapahit yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada. Selain itu, dia juga aktif berdakwah dan mengajarkan agama Islam. 

Selain Sultanah Nihrasiyah, ada juga Sultanah dari Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Sultanah Safiatuddin. Dia sangat aktif dalam dunia politik dan diplomasi, terutama menyelamatkan Aceh dari genggaman VOC. Selain itu, kerajaan di bawah kekuasaan Sultanah Safiatuddin mengalami kemajuan di bidang ekonomi, seni budaya, agama, dan hukum. Bahkan dalam bidang ilmu pengetahuan, dia berhasil membidani perpustakaan yang mengoleksi berbagai literatur ilmu pengetahuan, khususnya karya ulama-ulama Aceh.

Pada masa kolonialisasi, perempuan Indonesia tidak hanya diam dan menunggu takdir. Tidak sedikit dari mereka yang ikut bertempur di medan perang, seperti Cut Nyak Dien dan Cut Meutia. Selain ikut berperang, ada juga perempuan yang memilih untuk membangun fondasi dan kesadaran masyarakat pribumi dari bawah, seperti Dewi Sartika.

Hadirnya kolonialisasi dan politik etis di awal abad ke-20 membuat perempuan Indonesia semakin berani untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Mereka membuat organisasi pemberdayaan perempuanan, organisasi buruh, organisasi pendidik, dan lain sebagainya. Organisasi perempuan itu seperti Poeteri Mardika (1912), Pawijatan Wanito (1915), PIKAT (1917), Purborini (1917), Aisyiah (1917), Wanita Soesilo (1918), dan Wanita Hadi (1919). Selain itu, ada organisasi wanita yang bergelut di dunia pers seperti Perempoean Bergerak (1919-1920), Parsaoelian Ni Soripada (1927), Soera Iboe (1932), Beta (1933), Keoetamaan Isteri (1937-1941), Menara Poetri (1937) dan Boroe Tapanoeli (1940).  

Di masa kemerdekaan Indonesia hingga akhir Orde Lama, ada beberapa organisasi perempuan. Ada dua yang aktif dan kritis, yaitu Perwari dan Gerwani. Perwari aktif di awal kemerdekaan sebagai perempuan yang menopang kebutuhan dapur para pejuang, dan setelah itu berubah menjadi perkumpulan perempuan yang aktif di bidang pendidikan. Gerwani beda lagi, gerakan perempuan ini aktif menyuarakan kesetaraan hak perempuan dan laki-laki di bidang kerja dan sosial kemasyarakatan, menyuarakan hak buruh, dan mengobarkan nasionalisme Indonesia.

Pergerakan perempuan di era modern ini cukup beragam dan sudah mulai banyak yang terpelajar. Mereka mendirikan organisasi keperempuanan yang lebih progresif, di antaranya Komnas Perempuan, Jurnal Perempuan, JARPUK, Fahmina, PEKKA, FAMM dan lain sebagainya.

Perempuan Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam dunia pergerakan. Loyalitas dan keikhlasannya sudah tidak diragukan lagi. Namun demikian, lambat laun rasa dan nilai perjuangan itu terasa hambar. Menurut Cora Vreede-de Stuers, salah satu faktor yang menghambat pergerakan perempuan ialah hukum adat dan agama. Sering kali mereka dinomorduakan dalam kelas sosial, namun di sisi lain mereka ingin mulia karena itu.

Pandangan tentang perempuan Indonesia yang semakin hari semakin menemukan banyak tantangan dalam memperjuangkan hak-hak sosialnya, seperti hukum adat, pemahaman terhadap teks agama, maupun ideologi yang mengeksploitasi perempuan, membuat ruang gerak semakin sempit, dan stigma atas dominasi perempuan dalam berorganisasi terkadang dipandang sebelah mata.

Perempuan dalam genggaman pasar merupakan bukti bahwa kapitalisme modern sudah merasuk ke berbagai sudut negara. Sementara itu, perempuan juga tidak luput akan hal itu. Mengingat kosmetik dan fashion juga menjadi kebutuhan bagi perempuan, namun jangan sampai ia melupakan tugasnya sebagai seorang ibu dan seorang empu. Dalam pepatah Arab disebutkan, “Al-ummu madrasatu al-aulad,” ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. 

Pramoedya Ananta Toer dalam berbagai karyanya selalu mengangkat keistimewaan perempuan. Bagi Pram, perempuan merupakan sosok ibu negara yang berjasa melahirkan putra-putra bangsa. Ibu juga menjadi penghubung pertama antara hamba dan Tuhannya. Dalam suatu dialog di Tetralogi Buruh jilid pertama (Bumi Manusia), Pram menuturkan “Jangan sebut aku perempuan sejati, jika hidup hanya berkalang lelaki. Tetapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai”. 

Tidak jauh berbeda dengan Pram, Nawal El-Saadawi mengisahkan perempuan yang terpenjara rezim patriarkat. Dalam gagasannya itu, Nawal juga sedikit menyinggung perempuan modern, yang kecanduan kosmetik Eropa, Dia berujar “Aku sangat menentang make-up dan sepatu hak tinggi, dan semua yang kita sebut kecantikan”. 

Tan Hamzah, Mahasiswa Sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *