Filsafat Moral dan Kebahagiaan Al-Kindi

Artikel

Al-Kindi merupakan salah satu peletak dasar filsafat Islam di era klasik. Nama panjangnya ialah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Sabah Al-Kindi. Dia lahir di Kufah pada 801 M, masa ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa.


Dia bersama teman-temanya berusaha menghidupkan perpustakaan Bait Al-Hikmah yang telah didirikan oleh Harun Al-Rasyid dan diteruskan oleh Al-Ma’mun. Di dalam perpustakaan tersebut, Al-Kindi telah menerjemahkan berbagai buku filsafat dari Yunani dan menyunting terjemahan buku filsafat terdahulu. Lambat laun, apa yang dilakukan oleh Al-Kindi mampu memberikan fondasi atau ciri khas tentang apa yang dimaksud dengan filsafat Islam. 

Menurut Al-Kindi, filsafat harus memperdalam pengetahuan manusia tentang diri dan bahwa seorang filsuf wajib menempuh hidup susila. Hikmah sejati membawa serta pengetahuan pelaksanaan keutamaan. Kebijaksanaan tidak dicari untuk diri sendiri (Aristoteles), tetapi untuk hidup bahagia (Stoa). Tabiat manusia itu baik, namun ia digoda oleh nafsu. Konflik itu dihapuskan oleh pengetahuan (Paradoks Socrates). 

Manusia harus menjauhkan diri dari keserakahan. Hidup mejauhi keserakahan dalam pengertian hidup harus zuhud, sebagaimana yang dilkukan oleh Socrates. Al-Kindi mengecam para ulama yang memperdagangkan agama untuk memperkaya diri dan para filsuf yang memperlihatkan jiwa kebinatangan untuk mempertahankan kedudukannya dalam negara. Dalam kesesakan jiwa, filsafat menghibur dan mengarahkan untuk melatihnya keluar dari kekangan, keberanian, dan hikmah dalam keseimbangan sebagai keutamaan pribadi. Dalam hal moral, Al-Kindi kemudian mendasarkan pada pemikiran Stoa dan Socrates.

Al-Kindi kali pertama menerjemahkan dan mengomentari karya Aristoteles yang berjudul Nicomachean Ethics. Dalam buku ini, Al-Kindi menemukan bagaimana untuk bisa menjadi manusia yang baik. Al-Kindi pun banyak terpengaruh oleh pemikiran etika Aristoteles ketika berbicara terkait dengan kebajikan dan kebahagiaan sejati manusia. 

Dalam kitabnya, Risalah fi Kammiyat Kutu Aristutalis wa ma Yuhtaj Ilaih fi Tahsil al-Falsafah, komentarnya terkait dengan kebahagiaan, Al-Kindi menyebutkan bahwa kebiasaan moral jiwa yaitu memerintah jiwa melalui kebisaan moral yang baik untuk menjaganya agar terjauhkan dari kejahatan. Dengan demikian, menurut Al-Kindi, kebahagiaan akan diraih oleh manusia ketika ia jauh dari sifat-sifat kejahatan, di sisi lain kebahagiaan itu juga terkait erat dengan kebajikan. Menurut Al-Kindi, kebajikan merupakan tujuan manusia hidup di dunia dan di akhirat.

Pembahasan Al-Kindi terkait dengan kehabagiaan dan kebajikan memiliki keterikatan dengan jiwa. Pembahasan jiwa dan akal merupakan lanjutan dari komentarnya sekaligus kritikannya kepada Aristoteles. Menurut Al-Kindi roh (jiwa) adalah jauhar basith, tunggal, tidak tersusun, tidak panjang maupun lebar, jiwa mempunyai arti penting, sempurna dan mulai, substansinya berasal dari Tuhan.

Al-Kindi mengibaratkan hubungan jiwa sebagai sinar matahari. Sinar matahari tidak jauh berbeda dengan matahari itu sendiri. Begitu juga menurut Al-Kindi terhadap jiwa bahwa jiwa memiliki kedekatan dengan Tuhan. Karena hakikat jiwa bersifat ilahi dan spiritual, maka jiwa berbeda dengan tubuh dan bertentangan dengannya. Potensi-potensi keburukan nafsu berahi boleh jadi mendorong manusia untuk berbuat jahat, namun jiwa akan mengekangnya. Ketika meninggalkan tubuh, jiwa akan bersatu kembali dengan dunia riil, tempat cahaya Pencipta, yaitu Tuhan. 

Pemikiran tentang jiwa dalam filsafat Al-Kindi banyak dipengaruhi oleh ide Aristoteles, Plato, dan Plotinus. Al-Kindi mendefinisikan jiwa sebagai kesempurnaan awal bagi fisik yang bersifat alamiah, mekanistik, dan memiliki kehidupan yang energik, atau kesempatan fisik alami yang mempunyai alat dan mengalami kehidupan. Definisi ini mirip dengan yang digagas oleh Aristoteles, namun Al-Kindi juga mendefinisikan jiwa yang bersumber dari Plato dan Plotinus. 

Menurutnya, jiwa adalah elemen yang mempunyai kehormatan, kesempurnaan, berkedudukan luhur, dan substansinya bersumber dari Sang Pencipta. Definisi ini, oleh Al-Kindi, dialamatkan pada jiwa rasional yang disebutnya dengan al-nafs al-nathiqah. Menurutnya, jiwa ini merupakan substansi yang bersifat ilahi dan berasal dari Cahaya Pencipta, substansi sederhana yang tidak fana, substansi yang turun dari dunia akal ke dunia indra dan dianugerahi kekuatan memori akan masa lalunya.

Al-Kindi berpendapat bahwa jiwa manusia mempunyai tiga daya, yaitu daya berpikir, daya  marah, dan daya syahwat. Daya berpikir itu disebut akal. Akal kemudian dibagi lagi menjadi tiga, yaitu akal yang masih bersifat potensial, akal yang telah keluar dari potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas akal kedua. Sementara itu, akal yang bersifat potensial tidak akan menjadi aktual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkanya dari luar, yang mempunyai wujud tersendiri di luar jiwa manusia.

Pemikiran tentang jiwa dan akal merupakan salah satu tema yang sering dibahas dalam diskursus filsafat Islam awal. Di masa Al-Kindi, dia bersama teman-temannya di perpustakaan Bait Al-Hikmah bisa menjadi contoh tentang bagaimana orang pada generasinya mengembangkan keilmuan dalam Islam. Terlepas dari kontroversi Al-Ma’mun sebagai khalifah, yang jelas, segi positif yang bisa diambil ialah upayanya dalam mengembangkan keilmuan Islam yang dimotori oleh Al-Kindi dan koleganya. Warisannya masih bisa kita rasakan hingga hari ini.

M. Mujibuddin SM, mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

2 thoughts on “Filsafat Moral dan Kebahagiaan Al-Kindi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *