Abu Bakr Al-Razi, Sang Pemikir Bebas dalam Islam

Artikel

Al-Razi ialah seorang dokter, filsuf, kimiawan, dan pemikir bebas. Dia dikenal dengan sebutan Rhazes oleh orang-orang Latin. Nama aslinya ialah Abu Bakr Muhammad bin Zakariyya bin Yahya Al-Razi. Dia lahir di Ray, dekat Teheran sekarang, pada 1 Sya’ban 251H/865M. 


Pada awalnya, menurut Al-Biruni, dia merupakan seorang praktisi kimia. Ketika bekerja, dia mebiarkan matanya tidak berkedip, mudah terluka, dan terkena penyakit. Karena terlalu sering berhubungan dengan api dan asap-asap yang menyengat, terpaksa dia harus mencari pengobatan. Pada saat situasi inilah yang menjadikannya tertarik pada praktik kedokteran, dan kemudian terhadap apa saja yang berada di balik itu, terhadap sesuatu yang karenannya dia banyak dicemooh. 

Pada masa mudanya, dia menjadi tukang intan, penukar uang, atau sebagai pemain kecapi. Setelah itu, dia bekerja sebagai dokter. Dari situlah dia kemudian tertarik mengkaji sumber-sumber kuno dan menjadi dokter tiada tara dalam sejarah Islam. Berkat kegeniusannya dalam ilmu kedokteran, Al-Razi diangkat sebagai kepala rumah sakit di Rayy ketika Manshur bin Ishaq bin Ahmad bin Asad menjadi seorang Gubernur Rayy (290-296H/902-908 M). 

Al-Razi menulis kitab Al-Thibb Al-Manshuri untuk dipersembahkan kepada Gubernur Manshur bin Ishaq bin Ahmad. Al-Razi dari Rayy pergi ke Baghdad pada masa Khalifah Al-Muktafi (289 H/901M–295 H/908M) dan di sana dia memimpin rumah sakit pula. Sebagai dokter bereputasi, Al-Razi tak terungguli baik di Barat maupun Timur. Akan tetapi, sebagai filsuf, reputasinya tercoreng oleh tuduhan-tuduhan tak berdasar, seperti kemurtadan dan kesesatannya dari agama. 

Al-Razi pernah menimba ilmu kepada Ali bin Rabbani Al-Thabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv pada tahun 192 H/ 808 M. Tidak begitu banyak literatur yang mengisahkan guru dari Al-Razi itu sendiri. 

Ali Akbar Velayati dalam buku The Encyclopedia of Islam and Iran: Dynamics of Culture and the Living Civilization, menyebutkan bahwa Al-Razi meninggalkan banyak buku, yang menurut Ibn Al-Nadim, berjumlah sekitar 147 kumpulan. Di Antara karya-karya filsafatnya ialah Al-Thibb Al-Ruhani, Al-Sirah Al-Falsafiyyah, Imarah Al-Iqbal wa Al-Daulah, Kitab al-‘Ilm Al-Ilahi, dan Maqalah fi Ma ba’da Al-Thaba’ah

Lantaran karyanya yang berkaitan dengan filsafat tidak sistematis, dia tidaklah diakui sebagai filsuf yang prestis. Namun demikian, berkenaan dengan silogisme, dia dipandang sebagai salah seorang sarjana Muslim dan pemikir paling penting dalam kemanusiaan. Dia berbicara tentang keunggulan nalar yang kuat dan menunjuk pada kemampuan nalar yang tak terbatas. Akan tetapi, kesetiannya yang ketat pada nalar membuatnya tidak bisa menerima wahyu, ilham, dan mata batin atau visi spiritual.

Al-Razi mengarahkan kritik pedas terhadap penganut logika dan demonstrasi, sebagaimana juga terhadap mereka yang menggabungkan agama dan filsafat. Dia memusuhi semua agama, namun memandang penting sebagian prinsip para filsuf Persia dan filsuf-filsuf sebelum Aristoteles, yakni Demokritos. Hal ini membuat marah sebagian sarjana Muslim. Mereka menuduh Al-Razi hanyalah seorang dokter kesehatan yang tidak memiliki hak atau kecakapan untuk terlibat dalam pembahasan-pemabahasan filsafat. Sarjana Muslim lain, seperti Abu Hatim Al-Razi, menggambarkannya sebagai orang yang menyimpang. 

Al-Razi merupakan salah satu tokoh pemikir bebas dalam Islam. Istilah “pemikiran bebas” dalam hal ini merupakan pengertian yang terbatas, yaitu menolak wahyu, mengarah pada ciri-ciri umum dalam pemikiran kaum intelektual yang keyakinan-keyakinannya berbeda secara tajam. Sarah Stroumsa dalam bukunya, Freethinkers of Medieval Islam, beranggapan, bahwa mungkin ada yang mempertanyakan keabsahan istilah pemikiran bebas yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah fenomena di dunia Islam Abad Pertengahan, karena istilah tersebut berasal dari sejarah intelektual Eropa di era permulaan modern. Bahkan di Eropa, istilah “pemikiran bebas” sering kali dipergunakan secara longgar dan digunakan untuk berbagai gerakan, terutama dalam pengertian mengejek. Demikian pula dalam tradisi keilmuan Islam modern, istilah pemikiran bebas (dan istilah-istilah yang sepadan dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya) sering kali dipergunakan sebagaimana istilah zandaqa, untuk mencakup apa saja, mulai dari dualisme sampai liberalisme. 

Jika dipergunakan secara mutlak, istilah “pemikiran bebas” (sebagaimana istilah zandaqa), maka ia akan menjadi label umum yang mencakup semua orang, atau yang dianggap sebagai berpikiran lebih rasional daripada kaum ortodoks. Agar bisa dimanfaatkan secara historis, maka istilah pemikiran bebas harus didefinisikan secara lebih akurat. 

Dalam sejarah intelektual Eropa yang menjadi asal mula istilah “pemikiran bebas”, istilah ini menyiratkan adanya pemikiran yang independen. Dalam berbagai kamus dan ensiklopedia, ciri utama para pemikir bebas ialah sikap mereka yang menolak otoritas agamawan. Penolakan ini meliputi isntitusi dan juga kitab-kitab suci yang menjadi sumber otoritas bagi institusi tersebut. Pada definisi lain, “pemikiran bebas” dalam pengertiannya yang terbatas, yaitu menolak wahyu, mengarah pada ciri-ciri umum dalam pemikiran kaum intelektual yang keyakinan-keyakinannya berbeda secara tajam. Hal tersebut membuktikan bahwa ciri yang terpenting ini menjustifikasi kajian yang akan mempersatukan mereka, meskipun mereka berbeda.

Dalam kajian modern, kaum intelektual kadang-kadang disebut sebagai “ateis”. Akan tetapi, sebutan ini tidak tepat, sebab kritik mereka terhadap agama tidak pernah terkait dengan gagasan eksistensi Tuhan. Yang mereka tolak hanya ide agama kitab suci tentang Tuhan, nama-nama-Nya, dan keterlibatan-Nya di dunia melalui wahyu. Sejalan dengan Fauz Noor dalam bukunya, Berpikir Seperti Nabi, menyatakan bahwa dalam sejarah filsafat Arab, tempat Islam diturunkan, pengertian ateis (zindiq) bukanlah ideologi, yang mengingkari adanya Tuhan Sang Pencipta. Pengertian zindiq dalam tradisi Islam dan Arab lebih menunjuk pada ideologi yang mengingkari kenabian. 

Al-Razi termasuk seorang rasionalis murni. Dia hanya memercayai kekuatan akal. Dalam kedokteran, studi klinis yang dilakukannya menemukan metode yang kuat, berpijak kepada observasi dan eksperimen, sebagaimana yang terdapat pada kitab Al-Faraj ba’d Al-Syaiddah karya Al-Tanukhi (w. 384 H). Operasi Philosophia vol. 1 juga menunjukkan metode tersebut. Bahkan pemujaan Al-Razi terhadap akal tampak sangat jelas pada halaman pertama dari bukunya, Al-Thibb. Dia mengatakan, “…Tuhan segala puji bagi-Nya, yang telah memberi kita akal agar dengannya kita dapat memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat, inilah karunia terbaik Tuhan kepada kita. Dengan akal kita dapat melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik dengan akal, kita dapat mengetahui yang gelap, yang jauh dan yang tersembunyi dari kita. Dengan alat itu pula kita dapat memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, suatu pengetahuan tertinggi yang dapat kita peroleh, jika akal sedemikian mulia dan penting, maka kita tidak boleh merendahkannya, kita tidak boleh menentukannya, sebab ia penentu atau tidak boleh mengendalikan, sebab ia pengendali atau memerintah, sebab ia pemerintah namun kita harus kembali kepadanya dalam segala hal dan menentukan segala masalah dengannya, kita harus sesuai perintahnya.”

Kembali kepada Al-Razi, dia merupakan sosok yang bertuhan, namun dia tidak memercayai wahyu dan kenabian. Beberapa gagasannya terangkum sebagai berikut:

  1. Akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat, yang berguna dan tak berguna. Dengan akal semata kita dapat mengetahui Tuhan dan mengatur kehidupan kita sebaik-baiknya. Lantas, kenapa dibutuhkan nabi?
  2. Tiada pembenaran bagi pengistimewaan beberapa orang untuk membimbing semua orang, sebab semua orang perbedaannya bukanlah karena pembawaan alamiah, melainkan karena pengembangan dan pendidikan (eksperimen). 
  3. Para nabi saling bertentangan. Apabila mereka berbicara atas nama satu Tuhan, mengapa implementasi mereka berbeda? Setelah menolak kenabian, Al-Razi kemudian mengkritik agama secara umum. Dia menjelaskan kontradiksi-kontradiksi kaum Yahudi, Kristen, dan Majusi. Menurutnya, loyalitas manusia terhadap agama itu karena meniru dan kebiasaan, kekuasaan ulama yang mengabdi negara dan agama, upacara-upacara, dan peribadatan, itu memengaruhi mereka yang sederhana dan naif. Dia juga menjelaskan kontradiksi Yahudi, Kristen, Mani, dan Majusi secara rinci. Bahkan lebih lanjut dia katakan bahwa tidaklah masuk akal Allah mengutus para nabi sebab mereka menimbulkan kemudaratan-pertentangan. Dia juga mengkritik secara sistematik kitab-kitab wahyu Alquran dan Alkitab. Dia menolak kemukjizatan Alquran, baik gayanya maupun isinya, dan menegaskan bahwa mungkin menulis kitab yang lebih baik dalam gaya yang lebih baik. Dia lebih suka membaca buku-buku ilmiah daripada Alquran. 

Dari pembahasan di atas kita mengetahui bahwa Al-Razi mesti di pandang sebagai pemikir bebas dalam Islam dan mungkin di sepanjang sejarah pemikiran manusia. Beberapa gagasannya membuat hati kita retak terkait dengan kenabian. Dia tergolong sebagai rasinonalis murni yang sangat memercayai kekuatan akal, bebas dari segala prasangka, dan sangat berani dalam mengemukakan gagasan-gagasannya. Dia memang memercayai manusia, kemajuan, Tuhan Mahabijak, namun dia tidak memercayai agama mana pun. 

Baihaqi Addakhil, penjual buku yang menyamar menjadi mahasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *