Wisata Halal

Artikel

Coba saya cerita sedikit soal wisata halal yang belakangan ini banyak diperbincangkan warganet.

Beberapa waktu lalu, sebagai juruwarta, istri saya diundang ke Taiwan oleh dinas pariwisata setempat untuk meliput halal tourism. Yang diundang ialah juruwarta dari Indonesia dan Malaysia, dua negara yang mayoritas berwarga Muslim.


Tujuannya jelas. Otoritas pariwisata Taiwan ingin memperkenalkan dan mempromosikan wisata halal di negaranya untuk menggaet pasar wisatawan Muslim. “Hai, umat Muslim. Nggak perlu ragu melancong ke Taiwan. Kami paham kebutuhan kalian. Kalian wajib mengonsumsi makanan halal, di tempat kami tersedia. Kalian perlu sarana ibadah Muslim, kami sediakan juga.” Begitu kira-kira jika dikatakan secara sederhana.

Masuk akal pemerintah Taiwan melakukan itu. Mayoritas warga Taiwan bukan Muslim. Justru karena itu, Taiwan berkepentingan dengan label wisata halal untuk membidik pasar wisatawan Muslim.

Masuk akal pula jika negara-negara seperti, katakanlah, Inggris, Tionghoa, Korea, Jepang, dan Rusia, juga berkepentingan dengan label wisata halal. Sama seperti Taiwan, mereka merasa perlu menunjukkan bahwa kebutuhan wisatawan Muslim diakomodasi.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah perlu mempromosikan wisata halal?

Ya nggak perlu lah. Semua orang tahu, Indonesia adalah negara yang mayoritas warganya Muslim. Yang memasak makanan sebagian besar Muslim, jadi otomatis makanannya halal. Masjid dan musala ada di tiap gedung dan pengkolan jalan. Aneka makanan kemasan berlabel halal tersedia di mana-mana. Daging babi tidak populer di Indonesia.

Orang Malaysia, Arab, Pakistan, dan negara-negara Muslim lain pasti sudah tahu. Nggak perlu kita gembar-gembor, “Oe, datanglah ke Indonesia. Wisatanya halal nih di sini.” Lucu. Seperti menggarami lautan. Namanya negara mayoritas Muslim, bahkan jumlahnya terbesar di dunia, ya pasti fasilitas yang mendukung wisata halal melimpah-ruah. Otomatis.

Justru, yang perlu dilakukan Indonesia adalah mempromosikan “wisata haram”. Lah, iya to? Berkebalikan dengan negara-negara bukan Muslim yang berkepentingan dengan label wisata halal, Indonesia yang mayoritas Muslim justru berkepentingan dengan label “wisata haram” untuk membidik pasar wisatawan bukan Muslim. Dunia perlu tahu ini.

“Oe, datanglah ke Indonesia. Kami paham kebutuhan kalian. Yang serba nggak halal tersedia juga di sini. Aman. Kalian perlu bir dan wiski, kami ada. Sake dan soju, kami ada. Atau, yang tradisional khas Nusantara, seperti tuak, ciu, brem, wine salak pondoh, duduh tape, ada banyak. Babi panggang cah kangkung bumbu tauco, kami ada.”

Begitu seharusnya, baru logis. Wisatawan dari negara-negara kaya yang bukan Muslim akan datang berduyun-duyun ke Indonesia, membelanjakan uangnya. Namanya jasa wisata, kuncinya sederhana: bikin senang. Caranya, ya kebutuhannya apa, disediakan.

By the way, pulang dari Taiwan meliput wisata halal, istri saya membawakan saya oleh-oleh. Makanan halal nan syar’i, pastinya? Halah, bukan. Oleh-olehnya wine, minuman haram kesukaan saya. Masih utuh sampai sekarang, saya simpan. Botolnya baru akan saya buka 10 tahun lagi supaya rasanya lebih mantap dan kadar keharamannya lebih maksimal.

Sigit Djatmiko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *