Terlatih Melupakan

Kolom

Suatu ketika, saya boarding meninggalkan Istanbul menuju Amsterdam. Meninggalkan matahari Musim Panas Turki menuju Amsterdam yang dingin. Masih ada seminggu sebelum perjalanan ini tergenapi. Syukurlah tidak seperti perjalanan dari Roma ke Istanbul, perjalanan ke Amsterdam ini tidak perlu diwarnai aksi pengerjaan essay untuk keperluan assignment. Draf sudah dikirim per hari pertama di Ankara dan feedback akan diterima, jika tepat waktu, ketika saya berada di Luxemburg. Akan tetapi, kegelisahan saya rupanya belum tuntas. Fakta bahwa di Amsterdam pun saya masih harus ‘meraba-raba dalam gelap’ membawa saya pada asumsi-asumsi lain. 


Misalkan, jangan-jangan kehidupan sebagai sebuah perjalanan, sebuah trip, justru lebih ‘parah’ dari trip-trip yang mungkin engkau pernah lakukan. Dalam melakukan trip, kita punya kesempatan secara sadar untuk mengecek destinasi yang kita kunjungi sehingga kita punya gambaran dasar tentangnya. Kita tidak meraba-raba dalam gelap secara total. Ibarat engkau menghadapi mati lampu di rumah. Walaupun gelap, engkau sudah punya pengetahuan dasar tentang konstruksi bangunan rumahmu, sehingga engkau tidak akan kesulitan menemukan jalan dan selangkah lebih tahu cara menemukan lilin dan bagaimana menyalakannya. 

Hanya saja, dalam konteks hidup sebagai perjalanan, kita sepertinya tidak dibekali pengetahuan dasar. Kita tidak ingat (si)apakah diri kita di alam ruh. Apakah kita sudah menjadi diri kita yang sekarang saat masih di sana? Apakah kita sempat membangun peradaban dan lain-lain selama menunggu ‘panggilan’ untuk boarding ke alam rahim? Ataukah kita berdiri stagnan demikian rupa seumpama pion-pion catur menunggu untuk digerakkan di atas papan catur? Lalu, juga menarik untuk mempertanyakan, apakah ketika di alam ruh, sebelum kita diberjalankan ke alam rahim, kita telah di-briefing soal bagaimana konstruksi rahim, bagaimana cara kita bertahan hidup, apa yang akan kita alami saat kita diberjalankan ke alam dunia, dan seterusnya, dan seterusnya? Ataukah kita, sebagaimana diyakini orang-orang zaman dulu dan didukung Plato (dari Armstrong, 2013), dapat menganggap bahwa pengalaman yang terjadi di dunia ini hanya pengulangan dari apa yang sudah terjadi di langit? 

Kita tidak pernah ingat, kita tidak pernah akan tahu—kecuali melalui fatwa-fatwa keagamaan. Yang jelas kita pernah berada di alam rahim, selepas alam ruh. Di alam rahim pun kita tidak ingat bagaimana kita ‘tiba-tiba’ berada di sana, bagaimana kita ‘entah bagaimana’ merespons tempat kita berada dan bertahan hidup. Kita juga tidak sadar bagaimana rasanya pengalaman ‘dilahirkan’. Dengan ini saya jadi bertanya-tanya, apakah kita, jika diberi ingatan dan kesadaran pada momen saat kita dilahirkan, akan sama bangga dan bahagia sebagaimana dirasakan orangtua kita? Ataukah kita akan marah-marah karena merasa dikutuk dengan dipilih untuk terlahir ke alam dunia? Apakah kita akan langsung tiba pada argumentasinya Soe Hok Gie bahwa ‘nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan’? Atau, kita akan merasa trauma berkepanjangan oleh sebab selama 9 bulan berada di alam rahim, ‘dipaksa’ keluar melalui lubang sempit, dan terkejut melihat cahaya terang-benderang, konstruksi bangunan yang aneh, suara-suara aneh, keterlalulegaan ruang, dan lain-lain. 

Kita tidak pernah tahu. Kita tidak pernah ingat. Boleh jadi di sinilah terletak hikmah dari sifat manusia sebagai mahallun nisyaan (tempatnya lupa). Jangankan pada janji manis saat menyatakan cinta, pada kediriannya sendiri saja ingatannya tak mampu menjangkau. Dan, seiring dengan ketidaksampaian kita pada ‘apa yang terjadi’ di alam-alam yang telah lalu dan di hari-hari yang sudah lewat, muncul ‘kegelapan’ di hari-hari esok. Kegelapan di sini tidak dalam makna ‘sesuatu yang buruk’ melainkan semata ‘ketidaktahuan’. Kita, sekali lagi, tidak ingat apakah kita sempat diberitahu seperti apa dunia ini sebenarnya. Alhasil, segera setelah lahir, kita menghidupi kehidupan ini sambil meraba-raba dalam gelap. Kita mencari tahu. 

Sifat pelupa ini boleh jadi kita taken for granted sebagai bagian dari kodrat menjadi manusia. Akan tetapi, pertanyaannya: bagaimana jadinya jika sifat-sifat itu kemudian dimanfaatkan, oleh segelintir orang demi tujuan-tujuan yang buruk? Kundera (1984), dalam kata pengantarnya untuk The Joke versi terjemahan resmi bahasa Inggris, bilang bahwa kekuatan totalitarian punya kemampuan mitografi untuk mengorganisasi forgetting, yang nantinya, “people will not find the true explanation of what we have witnessed.” Kita yang awam, dengan kata lain, punya kemungkinan untuk dibuat lupa-melupakan sehingga nantinya bisa (dengan mudah) dilupakan. 

Boleh jadi, Kundera memaksudkannya hanya dalam konteks realitas sosiologis, psikologis, dan antropologis yang di situ sekumpulan totalitarian power, secara politis memanipulasi narasi sejarah untuk (1) mengubur jejak kejahatan mereka; dan (2) menciptakan legenda yang, selain mampu menumbuhkan kesan Weberian charisma pada satu tokoh tertentu, juga mampu melahirkan ketakutan yang mendalam dalam jiwa-jiwa manusia. Hanya saja, asumsi Kundera di atas, sebetulnya, masih bisa kita jabarkan pada konteks yang lebih luas dan spiritual. Boleh jadi ini tidak disadari Kundera, dan mungkin saja saya hanya sedang berlagak sok tahu. Akan tetapi begini, pengorganisasian forgetting sepertinya juga dapat kita temui dalam: 

  1. Konteks relasi antara manusia-Iblis-dan-Tuhan, yang di situ Iblis, sebagai totalitarian power, dibantu sifat-sifat sataniah di dalam diri kita, bersekongkol untuk membuat kita lupa pada ‘apa yang pernah kita ikrarkan’ di awal masa penciptaan. Ikrar penerimaan Allah sebagai Tuhan. Ikrar untuk inna shalatii wa nusukii wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamiin. 
  2. Konteks Allah sebagai totalitarian power yang mendesain kita untuk lupa pada ‘hal-hal yang pernah kita saksikan’ di alam-alam yang telah lewat, dan di masa-masa ketika akal kita belum terbentuk secara sempurna, demi kita, ‘mungkin’, tidak ‘trauma’, dan demi dinamika qadla dan qadar—skenario kehidupan. 

Kita dirancang untuk lupa. Maha Besar Allah dengan Segala Keberhendakan-Nya.

Irfan L. Sarhindi, Pengasuh Salamul Falah, Lulusan University College London

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *