Sekuler, Sekularisasi, dan Sekularisme; Sebuah Tinjauan Sosiologis

Artikel

Era modernitas ditandai dengan tiga hal yaitu sekularisasi, rasionalisasi, dan industrialisasi. Era ini bisa dilihat setelah Revolusi Industri Inggris yang berlangsung pada tahun 1750-1850, ditambah dengan Revolusi Prancis pada tahun 1789-1799. Sebelum adanya dua revolusi besar peradaban Eropa, masyarakat Eropa berada pada fase abad kegelapan. Namun demikian, setelah kedua revolusi tersebut, peradaban Eropa memasuki era pencerahan yang disusul dengan era modernitas.


Sekularisasi berawal dari kata saeculum yang memiliki dua konotasi, yaitu masa (waktu) dan tempat. Waktu menunjukkan keadaan sekarang sedangkan tempat dinisbatkan pada dunia. Sementara itu, menurut kamus The New International Webster’s Compeherensive Dictionary of the English Languange, secularism diartikan sebagai keduniaan dan menolak nilai-nilai spiritual. Secularize ditandai dengan sebuah proses penduniawian, proses menuju sekuler; proses perpindahan dari kesakralan menuju kesekuleran. 

Dengan merujuk pada pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketiga istilah tersebut memliki perbedaan yang mendasar. Biasanya pengertian yang sering tumpang tindih adalah sekularisme dan sekularisasi. Padahal, menurut Harvey Cox, kedua istilah tersebut memiliki perbedaan yang mendasar. Harvey Cox berpendapat bahwa sekularisasi adalah pembebasan manusia dari proteksi agama dan metafisika, pengalihan dari alam lain kepada dunia ini. Sementara itu, sekularisme adalah nama ideologi (isme) yang befungsi sangat mirip dengan agama baru. Dengan demikian, sekularisasi yang dimaksud adalah membebaskan masyarakat dari kontrol agama dan pandangan alam metafisik yang tertutup.

Pemikiran sekularisasi juga didasarkan atas keinginan August Comte, sosiolog Prancis, yang menginginkan agar masyarakat beralih dari dunia metafisika menuju dunia yang lebih modern. Proses perpindahan tersebut memerlukan sebuah perangkat rasionalitas untuk bisa membebaskan manusia dari belenggu metafisika yang tertutup.

Sejarah kegelapan dunia Eropa yang terjadi sekitar abad ke-13 hingga ke-18 menjadi penentu kebangkitan pemikiran bangsa Eropa. Pada masa abad kegelapan, bangsa Eropa didominasi oleh Gereja. Gereja menguasai seluruh tatanan sosial masyarakat. Peran Gereja sangat menentukan arah gerak dan pola pikir masyarakat. Oleh karenanya, di awal abad pencerahan tidak jarang kemudian para kritikus banyak melontarkan kritikannya terhadap Gereja.

Era kabangkitan dunia Eropa merupakan terobosan sejarah peradaban manusia menuju dunia yang lebih modern, lebih rasional, dengan konsekuensi meninggalkan dunia yang metafisis. Comte lebih lanjut mengatakan bahwa kehidupan dunia modern dicirikan dengan rasionalitas tinggi, liberalisasi atas dominasi Gereja, dan hal-hal lain yang berbau metafisis.

Dengan rasionalitas yang tinggi, peradaban Eropa mampu memisahkan dirinya dari dominasi Gereja. Revolusi Inggris dan Perancis merupakan titik momentum penting bangkitnya manusia yang sekuler. Dunia modern yang dicita-citakan oleh Weber dan Comte terletak pada adanya sekularisasi dalam peradaban manusia. Sekularisasi merupakan salah satu produk adanya rasionalisasi peradaban manusia.

Teoretikus selanjutnya, yaitu Peter L. Berger, mengungkapkan bahwa di Amerika proses sekularisasi sedang terjadi. Masyarakat Amerika beranjak dari masyarakat relegius menuju sekuler. Hal tersebut dicirikan dengan adanya upaya untuk tidak mencampuradukkan urusan dunia dan urusan religius. Maka dari itu, proses sekularisasi dalam konteks sosiologi merupakan upaya pembebasan manusia dari dominasi Gereja.

Berbeda halnya dengan sekuler yang diterapkan dalam bentuk negara. Negara Eropa, setelah bangkit dari dominasi Gereja, telah memberikan batas yang jelas mana urusan agama dan mana urusan negara. Bermodalkan pengalaman pahit dari sebuah tatanan negara Gereja yang telah lama mendominasi, masyarakat Eropa kemudian sadar akan pentingnya untuk memisahkan keduanya. Maka dari itu, untuk membangun sebuah tatanan yang lebih baik, konsep nation-state digagas untuk membedakan urusan yang bersifat politik dan religius.

Negara sekuler telah memberikan batasan terhadap peran agama dalam ruang publik.  Masyarakat Eropa tidak ingin terjebak lagi dalam dominasi Gereja. Semua urusan yang bersifat agama telah ditutup dalam diskursus ruang publik. Meski begitu, keinginan tersebut lambat laun dirasa gagal. Kesadaran keagamaan yang masih kuat dalam masyarakat secara tidak langsung turut memengaruhi gerakan sekularisasi dalam bidang politik. 

Banyak negara Eropa sudah tidak jelas lagi menjadi sebuah negara sekuler. Tatkala negara turut serta dalam urusan pendidikan agama, memberikan batasan-batasan terhadap agama, dan persoalan lain yang dilakukan negara kepada agama, semua persoalan tersebut bersifat dilematis. Di satu sisi negara sekuler tidak mencampuri urusan keagamaan, namun di sisi lain negara pelan-pelan menyusup ke ranah agama. Singkat kata, batasan negara sekuler semakin kabur.

Dengan demikian, ada perbedaan yang sangat mendasar terkait dengan sekuler, sekularisasi, dan sekularisme. Setidaknya dalam kajian sosiologis, fenomena tersebut tidak lepas dari adanya dunia modern dengan rasionalitas yang tinggi. Pelbagai pemaknaan tentang konsep tersebut berlatar belakang fenomena masyarakat baik di Eropa maupun di Amerika. Sudah cukup banyak dijumpai bagaimana negara sekuler itu terbentuk, bagaimana proses sekularisiasi itu diwujudkan dalam masyarakat secara riil, semua itu memudahkan kita untuk membaca gejala sosial yang terjadi di masyarakat modern saat ini.

M. Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *