Sama yang Beda

Artikel

Dalam teori siklus ala Ibn Khaldun, suatu kekuasaan itu mengalami lima tahap. Tahap pertama ialah konsolidasi, kedua ialah tirani, ketiga ialah sejahtera, keempat ialah kepuasan hati, dan kelima ialah hidup boros sehingga tinggal menunggu masa kehancuran. Dari masa ke masa, kekuasaan di era klasik hingga akhir abad pertengahan selalu timbul-tenggelam seperti itu.


Hal itu pun pernah dialami oleh sebuah dinasti paling mentereng di Timur abad pertengahan, yakni Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Bagdad. Penguasa terakhir, Al-Musta’shim Billah, harus menerima kekalahannya dari pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan. Pasukan Mongol memorak-porandakan Bagdad dan membakar perpustakaannya yang sangat berharga sehingga warisan ilmu pengetahuannya pun hanyut di Laut Hitam.

Pasukan Mongol tentunya juga tidak sendirian dalam menghancurkan Bagdad. Ada koneksi dari internal Dinasti Abbasiyah yang membantunya. Lantas, bagaimana kehancuran Bagdad yang merupakan pusat Dinasti Abbasiyah tersebut?

Dinasti Abbasiyah memang sudah renta kala itu. Konflik internal sudah menggerogoti eksistensinya. Stabilitas politik carut-marut. Beberapa wilayah melakukan gerakan separatisme sehingga muncul kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka dari Bagdad.

Khalifah atau penguasa terakhir Abbasiyah, Al-Musta’shim Billah, sebenarnya mempunyai kompetitor dalam perebutan takhta. Saudaranya, Al-Khafaji, sejatinya mempunyai karisma yang jauh lebih unggul dari dirinya. Kepiawaiannya dalam mengelola administrasi negara, mengatur strategi politik, dan kemampuan dalam kepemimpinan jauh lebih baik daripada Al-Musta’shim Billah. Akan tetapi, para pembesar Abbasiyah khawatir jika Al-Khafaji mendapatkan takhta sebagai khalifah, maka mereka akan kehilangan pengaruh. Oleh karenanya, Al-Musta’shim itulah yang “direstui” untuk menjadi khalifah di Bagdad.

Al-Musta’shim tidak secakap Al-Khafaji. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa dia itu boneka dari para pembesar yang mempunyai kepentingan. Di antara para pembesar itu yang berpengaruh ialah Muayyiddin Al-‘Alqami, atau Ibn Al-‘Alqami. Dia merupakan wazir (perdana menteri) di Bagdad. Sementara itu, Al-Musta’shim sangat tergantung padanya dalam kepemerintahannya.

Di masa itu, Dinasti Abbasiyah sudah sangat terganggu dengan perbedaan dalam masyarakatnya. Di antara mereka ada yang bermazhab Sunni, ada pula yang bermazhab Syiah. Keragaman mazhab ini pun menjadi runcing tatkala fanatisme menggerogoti sikap toleransi. Di dalam kepemerintahan sendiri, Sang Khalifah Al-Musta’shim bermazhab Sunni, sementara wazirnya, Ibn Al-‘Alqami, bermazhab Syiah. Perbedaan ini pula yang menjadi salah satu pemicu keruntuhan Abbasiyah lantaran perbedaan tersebut berefek domino.

Di masa itu, Mongol mucul sebagai kekuatan yang sangat mengerikan sekaligus kejam. Beberapa wilayah telah dicaploknya. Mereka terkenal dengan kekuatan militer yang tangguh. Orang-orang Mongol, oleh Jalaluddin Al-Suyuthi, dicirikan dengan wajah yang lebar dari orang Turki, berdada bidang, berpinggul ramping, berpostur tubuh mungil, serta kulit berwarna kuning langsat. Mereka digambarkan mempunyai gerakan yang gesit dan mampu memata-matai bangsa lain namun bangsa lain jarang yang bisa memata-matai mereka.

Mongol dengan sejumlah pasukannya yang kuat inilah yang menjadi ancaman bagi eksistensi Dinasti Abbasiyah. Terlebih lagi, Abbasiyah ketika itu berada dalam tahap terakhir (menurut klasifikasi Ibn Khaldun). Bagdad sekadar simbol Abbasiyah, sementara kekuatannya rapuh. Kondisi Bagdad yang renta tersebut kemudian diperparah oleh konflik internal mereka.

Sudah lazim bagi kita bahwa masyarakat bermazhab Sunni dan Syiah itu memang menorehkan catatan sejarah yang berdarah. Konflik antara keduanya terkadang memanas, meskipun juga terkadang meredam. Sementara itu, di era akhir-akhir Abbasiyah, konflik keduanya ditandai dengan perseteruan politik di dalam istana. Wazir yang bermazhab Syiah menjadi musuh dalam selimut bagi sang penguasa yang bermazhab Sunni.

Pada dasarnya, kabar bahwa pasukan Mongol hendak menyerang Bagdad itu sudah terdengar di Abbasiyah. Akan tetapi, penguasa yang lemah dan menggantungkan nasib negara pada orang yang salah itu justru seolah bunuh diri. Al-Musta’shim yang tidak cakap sebagai penguasa itu justru dimanfaatkan posisinya oleh sang wazir, Ibn Al-‘Alqami, yang menjadi penasihatnya. Sementara itu, Ibn Al-‘Alqami sudah bersekongkol dengan Mongol yang hendak memorak-porandakan Bagdad. 

Ibn Al-‘Alqami membuat nota perjanjian antara dirinya yang berambisi merebut Abbasiyah (dari kekuasaan penguasa Sunni) dengan pasukan Mongol tersebut. Kesepakatan mereka ialah bahwa Mongol menyerang Bagdad dan membasmi keluarga khalifah. Sementara itu, tempat-tempat suci kaum Syiah, yakni Karbala dan Najaf, tidaklah dihancurkan, serta masyarakat Syiah dijanjikan kedudukan di Bagdad dengan jaminan keselamatan. 

Untuk memudahkan pasukan Mongol menghancurkan Bagdad, Ibn Al-‘Alqami pun memangkas jumlah pasukan militer Abbasiyah. Ketika pasukan Mongol itu datang, pasukan militer Abbasiyah yang kalah jumlah itu tentu saja mudah dilumpuhkan. Sementara itu, Ibn Al-‘Alqami menasihati Al-Musta’shim agar membuat kesepakatan damai. Ibn Al-‘Alqami mengatakan bahwa Hulagu Khan hendak mengawinkan putrinya dengan putra Al-Musta’shim. Oleh karena itu, sebagaimana disarankan oleh Ibn Al-‘Alqami, agar Al-Musta’shim memberikan hadiah.

Ternyata, Al-Musta’shim yang tidak cakap tersebut tidak menaruh curiga pada wazirnya. Dia justru mematuhi apa yang disarankan olehnya sehingga dia masuk dalam perangkap yang mematikan. Benarlah bahwa Al-Musta’shim menemui pasukan Mongol. Akan tetapi, kondisi itu tidak sebagaimana yang dinasihatkan oleh Ibn Al-‘Alqami. Al-Musta’shim justru ditangkap. Tidak ada perkawinan dalam hal ini, yang ada hanyalah pertumpahan darah. Singkat cerita, Al-Musta’shim dipaksa untuk menonton festival pertumpahan darah itu.

Pasukan Mongol pun semakin membabi buta. Bagdad yang telah terkepung selama empat bulan itu akhirnya jatuh. Pasukan Mongol menghancurkan segalanya. Perpustakaan agung yang ada di Bagdad pun diratakan dengan tanah dan buku-bukunya dibakar sehingga abu-abunya mewarnai Laut Hitam. Lebih dari itu, ternyata masyarakat yang bermazhab Syiah pun turut dibunuh. Pasukan Mongol tentu tidak bisa membedakan mana yang Sunni dan mana yang Syiah karena mereka itu sama. Tidak ada ciri khusus yang bisa membedakan di antara keduanya.

Dengan demikian, Ibn Al-‘Alqami pun terkhianati oleh Mongol. Pada akhirnya, dirinya juga dibunuh secara hina. Najaf dan Karbala yang sedianya dijaminkan untuk tidak dihancurkan sebagai situs masyarakat Syiah, nyatanya juga rata dengan tanah.

Masyarakat Sunni dan Syiah memang berbeda. Secara teologi, perbedaan keduanya begitu tampak. Akan tetapi, tidak ada identitas khusus yang kasat mata yang bisa membedakan kedua mazhab teologi tersebut. Di mata bangsa Mongol, mereka yang bermazhab Sunni dan Syiah itu terlihat sama. Mereka tidak bisa membedakan mana yang Sunni dan mana yang Syiah, keduanya tampak tidak berbeda meskipun benar-benar berbeda. Sunni dan Syiah itu memang sama yang beda.

Pada gilirannya, karakter kejam pasukan Mongol justru lebih bisa mendominasi sehingga kekejaman mereka menghasilkan darah yang tumpah di Bagdad. Dengan kata lain, Abbasiyah pun tumbang. Ia runtuh setelah sekian waktu menjadi pusat peradaban besar dunia.

Supriyadi, penulis biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *