Rokok

Artikel

Rokok pada awalnya bukanlah persoalan kesehatan. Rokok, terutama kretek, adalah persoalan kebudayaan. Sebagai persoalan budaya, ia tak bisa disederhanakan hanya lewat satu sudut pandang. Pluralisme itu bukan hanya keragaman etnik, pluralisme terutama adalah keragaman sudut pandang. Dan puncaknya, setiap sudut pandang harus memperoleh ruang dan perayaan. Mari kita menatap rokok lewat sudut pandang ruang dan perayaan.


Kita mulai dari ini:

Jika Anda melintasi jalan pantura Jawa, sebuah ruas keras, panas, dan kumuh di beberapa titiknya, tetapi begitu memasuki Demak hingga Kudus, Anda akan bertemu oasis: deretan pohon trembesi yang kini telah besar dan anggun. Anda akan menemui sungai yang di sana dan sini rapat oleh sampah, tetapi di bagian ini, sungai itu menemukan martabatnya. Ia telah melewati semacam check point dan sampah-sampah tertahan karenanya. Siapa pihak biang keteduhan ini? Perusahaan rokok: Djarum. Maka penting membuat anjuran: perusahaan farmasi semestinya tak boleh kalah. Di setiap kegersangan mestinya harus ada jejak pabrik obat. Kecuali memang udara ini sengaja akan kita makin kotorkan, agar jumlah orang sakit makin terus bisa kita tingkatkan. Begitu juga di setiap kemeriahan even olah raga, pabrik obat harus menjadi sponsor utamanya karena ini menyangkut kesehatan. Tradisi sehat yang disponsori rokok adalah sebuah ironi, ia seperti korupsi yang harus melahirkan KPK karena lembaga penegakan hukum yang ada sedang dianggap tak berdaya.

Jika Anda warga Semarang, kini Anda bertemu Taman Indonesia Kaya. Nama sebelumnya adalah Taman KB. Sebelumnya taman ini dikenal sebagai sentra waria jika petang tiba. Kini lihatlah perubahan atmosfernya. Tata ruangnya indah dan sangat ramah kegembiraan publik dan akhirnya ia akan menjadi taman pemberdayaan publik. Jadi ini bukan soal pembenahan infrastruktur. Ini pembenahan kultur. Ini bukan hanya soal tata ruang, tata panggung, dan tata lampu. Ini soal yang lebih serius dari itu semua, ini soal rebranding. Jika kita serius, mestinya soal ini cukup diatasi Dinas Pariwisata. Tetapi tidak, Djarum Foundation harus hadir di sana mengilhami kita semua. Jadi ilham bisa datang dari sebatang rokok.

Saat taman ini diresmikan, saya terpaksa mau diajak main ketoprak edan oleh sutradara Agus Noor, dan aktor Butet Kertaredjasa serombongan. Ringan dan gembira rasanya memasuki panggung yang mestinya berat karena tak biasa itu, lebih karena saya bersyukur pada martabat kota kelahiran saya ini. Saya di-bully habis-habisan oleh Marwoto dan Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarso). Tetapi yang terasa: itu penghargaan.

Saya tidak merokok. Tetapi saya selalu menyediakan asbak dengan rasa hormat jika Gus Yusuf Chudlori rawuh ke rumah. Sujiwo Tedjo dengan gayanya yang khas itu tak berhenti mengepulkan asap. Saya sama sekali tak terganggu. Saya bukan tak paham ancaman risiko perokok pasif. Tetapi apa pentingnya ancaman itu di hadapan rasa hormat saya di hadapan persaudaraan. Tedjo menjalani hidup yang berat sebagai seniman. Sementara itu, rokok adalah temannya dalam sunyi dan pribadi. Dokter boleh tak setuju soal ini. Tetapi sebagai seniman, saya mengerti kebatinan ini.

Begitu juga Maston Lingkar jika datang bertandang. Saya ikut menghirup bau asap rokok kesayangannya. Asap itulah yang menemaninya berpentas teater selama ini dan meramaikan TBRS dengan Wayang Jumat Kliwon lebih dari dua dekade sampai hari ini. Semua dalang top suka hati berpentas di panggung sosial ini. 

Di hari-hari ini, saya akan banyak bertemu Gus Labib Asrori. Dialah penemu rokok kesehatan. Anda boleh berdebat soal ini. Tetapi, Gus Labib tak melayani debat karena dia sibuk merokok buatannya. Jika dia radang dan flu, dosis rokoknya dia tambah. “Dan sembuh,” katanya dengan senyum lebar. Gus Labib menyayangi tembakau, merawat tradisi bertani yang semestinya yang kemudian melahirkan rokok kesehatannya itu.

Rokok itu ada di rumah dalam kalengnya yang khusus. Gibran, anak yang sejak kecil steril dari asap malah penasaran mencobanya. Tentu ibunya berteriak kaget dan takut. Tetapi saya menenteramkannya. “Itu rokok doa. Dibuat oleh ibadah,” kata saya. Hasilnya, sementara si anak merokok sang ibu memotretnya. Lalu saya terkenang Ayah dan rokoknya: Sukun. Rokok ini selalu saya tenteng setiap menengok Ayah. Itulah rokok yang ia hirup di sekujur hidupnya. Dan Ayah jauh lebih perkasa, lebih sehat dari anak-anaknya yang tak merokok. Saya tak mengatakan Ayah sehat karena merokok. Tetapi ada fakta yang harus dibaca dengan seksama karena inilah fakta kebudayaan itu. Ia tak bisa disederhanakan hanya lewat satu pintu kepentingan.

 

Prie GS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *