Ibn Arabi dan Argumentasi Wahdah Al-Wujud

Artikel

Tasawuf tak dapat dimungkiri telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan spiritual dan intelektual dalam Islam. Namun demikian, kemunculannya selalu tak lepas dari kecurigaan yang datang dari tubuh Islam sendiri. Para penentang biasanya berasal dari ahli fikih dan syariat. Pertentangan kian menajam terlebih setelah munculnya Abu Yazid Al-Bushtami dan Al-Hallaj yang dianggap telah mengajarkan kebersatuan Tuhan dengan makhluk.


Perselisihan yang terjadi sedikit mereda setelah kehadiran Al-Ghazali. Dia dianggap mampu mengawinkan dan mendialogkan tasawuf dengan syariat melalui karya masterpiece-nya Ihya’ Ulum Al-Din. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama sampai munculnya ahli tasawuf dari Murcia, Andalusia, Muhyiddin bin Arabi (w. 638/1240) yang membawa paham wahdah al-wujud. Tak jarang, karena pahamnya ini, Ibn Arabi mendapat tuduhan sebagai zindik dan telah keluar dari Islam seperti yang dilontarkan oleh Ibn Taimiyyah.

Faktor utama lahirnya kecaman terhadap wahdah al-wujud ialah karena menurut para penentang, ajarannya mengarah pada konsep panteisme. Panteisme memandang Tuhan dan alam ini identik tanpa ada pengecualian. Tentu saja pandangan tersebut dianggap dapat merusak sendi-sendi tauhid umat Islam karena menghilangkan sisi transendensi Tuhan yang berbeda dengan makhluk. Ibn Arabi dengan wahdah al-wujud-nya dituduh menyimpang karena diasumsikan menyamakan wujud Tuhan dengan alam. 

Pada kesempatan ini kita akan mendiskusikan tuduhan-tuduhan tersebut dengan memahami wahdah al-wujud terlebih dahulu. Berbicara tentang wahdah al-wujud tentu tak akan lepas dari Al-Futuhat Al-Makkiyah dan Fushush Al-Hikam sebagai dua karya Ibn Arabi yang banyak berbicara tentang kesatuan wujud. Wujud menurut Ibn Arabi terbagi menjadi dua bagian. Pertama, wujud yang ada dengan zatnya sendiri dan mustahil berasal dari ketiadaan. Ia merupakan wujud absolut, yakni Tuhan. Kedua, wujud yang diwujudkan oleh Tuhan yang keberadaannya bersifat terikat dan terbatas. Inilah alam yang wujudnya bergantung pada wujud pertama. 

Walaupun demikian, wujud hanya milik Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan tidak mempunyai wujud. Oleh karena itu, ketika mendefinisikan alam, Ibn Arabi menjawab bahwa alam ialah Al-Haqq sekaligus bukan Al-Haqq. Jawaban ini mengacu kepada istilah utama dalam wahdah al-wujud yang mengenal adanya coincidentia oppositorum yaitu pertentangan dalam kesatuan realitas. 

Istilah tersebut melahirkan istilah kunci lain dalam wahdah al-wujud. Istilah-istilah tersebut merupakan Al-Haqq (Tuhan) dan al-khalq (alam), tanzih (tak dapat dibandingkan) dan tasybih (penyerupaan); al-batin (yang tak tampak) dan al-zhahir (yang tampak), dan yang satu dan yang banyak. Dalam hal ini, Ibn Arabi tidak hanya menekankan keesaan wujud, tetapi juga menekankan keanekaan realitas. 

Ibn Arabi memandang bahwa alam merupakan tajalli (penampakan diri) dari Tuhan. Dengan demikian, segala wujud materi di alam ini sesungguhnya ialah Tuhan. Oleh karena itu, dia beranggapan bahwa realitas hakikatnya ialah satu. Namun demikian, setiap realitas mempunyai dua sifat yang berbeda, yakni sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Kedua sifat tersebut hadir dalam segala sesuatu yang terdapat di alam.

Untuk menjelaskan hubungan ontologis antara Tuhan dengan alam, Ibn Arabi menggunakan cermin. Tuhan menciptakan alam agar Dia dapat melihat dan memperlihatkan Diri-Nya. Melalui alam, Dia ingin mengenal dan memperkenalkan Diri-Nya. Alam merupakan bayangan Tuhan. Jadi, semua yang ada di alam merupakan bayangan dari realitas yang sesungguhnya satu. Bayangan walaupun terlihat, namun bukanlah realitas yang sebenarnya, sehingga manusia tidak mungkin melihat Tuhan karena yang dilihat ialah penampakan-penampakan-Nya. Tuhan akan tetap menjadi, dalam istilah Ibn Arabi, “harta simpanan tersembunyi” yang tidak dapat dikenal kecuali melalui alam.

Tuhan dari segi Zat-Nya tidak mungkin diketahui karena Dia ialah “harta simpanan tersembunyi”.  Dengan demikian, Zat Tuhan itu tetap transenden secara total, tidak dapat dilihat, diketahui, dan didekati secara mutlak. Oleh karena itu, Dia menciptakan alam supaya dikenal melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang terdapat di alam.

Segala sesuatu yang diadakan menjadi realitas merupakan sebuah bentuk tajalli. Tajalli ini terjadi secara terus-menerus tanpa awal dan akhir. Tajalli merupakan proses penampakan diri Tuhan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih konkret. Tuhan melakukan tajalli dalam bentuk-bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Bentuk-bentuk itu tidak ada yang sama, tidak pernah sama, dan tidak akan terulang secara persis sama. Semuanya terjadi dalam perubahan terus-menerus tanpa henti.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa wahdah al-wujud tetap membedakan antara Tuhan dengan alam. Meski demikian, alam yang terdiri atas berbagai benda hakikatnya ialah satu wujud, yakni Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan banyak namun satu. Selain itu, ajaran tersebut juga menekankan tidak hanya sisi tasybih (penyerupaan), namun juga sisi tanzih (tak dapat dibandingkan). Dilihat dari sisi tasybih, Tuhan identik dengan alam (walaupun keduanya tidak setara), namun dari sisi tanzih, Tuhan berbeda sama sekali dengan alam. 

Kesatuan tanzih dan tasybih ialah prinsip yang ada dalam konsep Ibn Arabi yang disebut coincidentia oppositorum. Tuhan itu transenden dilihat dari segi Zat-Nya, namun Dia imanen atau identik dilihat dari nama-nama-Nya. Ibn Arabi menerangkan bahwa Tuhan itu satu-satunya wujud hakiki, namun Dia menampakkan diri melalui nama-nama-Nya dalam bentuk yang tidak terbatas pada alam. Jadi, konsep wahdah al-wujud Ibn Arabi tetap menekankan adanya dua sisi, yaitu imanensi dan transendensi Tuhan.

Ini berbeda dengan yang dipahami oleh pihak yang kontra. Mereka menganggap ajaran wahdah al-wujud hanya mempunyai satu sisi yaitu tasybih atau imanensi tanpa tanzih atau transendensi. Dengan demikian, wahdah al-wujud tidak dapat dikatakan menyimpang dari ajaran tauhid karena ia tetap mengakui transendensi Tuhan. 

Ulumuddin, Mahasiswa Studi Al-Quran dan Hadis, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *