Damba Spiritual Chairil Anwar

Artikel

Chairil Anwar. Kita kenal nama itu. Dia penyair legendaris Indonesia yang, sayang sekali, mati muda. Ada sebuah kisah yang menampilkan potret klise tentang Chairil.  


Saat menderita sakit panjang sebelum meninggal, Chairil mengajak Soeharto mencari uang untuk berobat ke dokter. Soeharto yang dimaksud di sini adalah rekan Chairil sesama seniman, bukan Soeharto yang mantan presiden itu.

Soeharto menerima ajakan Chairil. Mungkin karena iba. Dengan berjalan kaki, mereka mendatangi kantor redaksi surat kabar Pemandangan. Dia menemui redaktur untuk meminta honor lanjutan karya yang akan ditulisnya. 

Sudah pasti permintaan tersebut ditolak. Si redaktur tampaknya tak percaya kepada Chairil yang urakan dan ‘semau gue’. Meski ditolak, Chairil ternyata beruntung. Karena tak tega melihat kondisi Chairil, redaktur Pemandangan malah memberinya uang untuk berobat.

Merasa belum cukup dengan uang yang ada, Chairil dan Soeharto berkunjung ke kantor Balai Pustaka, penerbit yang telah memublikasikan karyanya. Hasilnya? Chairil memperoleh tambahan uang.

Uang sudah terkumpul. Tapi, Chairil tak jadi berobat. Alih-alih pergi ke rumah sakit, Chairil malah mengajak Soeharto makan-makan di restoran yang agak mentereng. Setelah kenyang, mereka pelesir ke dua toko buku sekaligus, Kolf dan USIS. Saat itu, Soeharto merasakan sesuatu yang tak lumrah. Para penjaga toko mengawasi gerak-gerik mereka dengan teliti.

Chairil memang terkenal sebagai pencuri buku yang ulung. Menurut beberapa kritikus sastra, Chairil juga suka mencuri karya sastrawan lain dengan cara memplagiasinya. Walaupun tuduhan ini dibantah mati-matian oleh H.B. Jassin, sahabatnya yang merupakan salah seorang kritikus sastra paling berpengaruh di Indonesia, potret Chairil sebagai penipu dan pencuri ternyata masih dikenang.

Sisi kelam Chairil lain yang hingga kini masih menjadi gosip sastra adalah petualangan cintanya. Konon, gayanya dalam bermain cinta kelihatan agak kasar dan bebas. Dan pada akhirnya, petualangan cinta tersebut menjadi cerita tentang kegagalan.

Begitulah potret Chairil yang melekat pada memori masyarakat. Dia seniman yang merdeka, berdaya hidup tinggi, cerdik dan cerdas, serta tenggelam dalam pergaulan bebas. Potret ini menampilkan wajah psikologis Chairil yang seolah-olah tak religius. Tapi, benarkan Chairil tak religius?

Lain dengan binatang, malaikat, dan setan yang linear dan monokrom dari segi kejiwaan, manusia adalah wadah bagi kontradiksi dan ambivalensi. Begitu pula Chairil. Walaupun berperilaku ‘semau gue’, sukar untuk tak mengatakan bahwa Chairil adalah manusia religius.

Arif Budiman, dalam Chairil Anwar Sebuah Pertemuan (2007), memandang Chairil sebagai orang yang religius, bukan dalam pengertian populer, melainkan dalam pengertian Paul Tillich. Bagi teolog Protestan tersebut, ruang lingkup religi lebih luas daripada agama. 

Manusia-beragama bisa saja terperosok dan terperangkap dalam hal-hal duniawi yang lahiriah. Sementara itu, manusia religius menerobos kungkungan alam lahiriah demi mencari makna hidup yang lebih jauh dan dalam. Dalam idiom Rumi, manusia religius mengupas kulit (al-qisyr) untuk mendapatkan inti (al-lubb). Manusia religius berusaha mentransendenkan hidup. Ia menjalani pengembaraan batin secara vertikal untuk mencapai apa yang tak fana. 

Manusia religius bisa saja memeluk sebuah agama. Tapi, tak selalu begitu. Agama, yang semula dirancang sebagai tangga transendensi, kadangkala justru jatuh menjadi pembatas yang merintangi upaya-upaya transendensi. Bukankah umat beragama sering memanfaatkan ajaran dan simbol agama untuk mengejar popularitas, kedudukan, dan harta? Bukankah agama kerap dikapitalisasi demi kesuksesan pribadi?

Menggolongkan Chairil sebagai manusia beragama yang taat dan berakidah lurus tentu problematis dan mengundang polemik. Namun demikian, biar pun lemah dalam hal agama, Chairil adalah sosok yang religius, layaknya seniman-seniman besar dunia yang lain. 

Puisi-puisi Chairil merekam pencariannya akan keabadian. Chairil adalah jiwa religius yang berjuang, secara sadar atau tidak sadar, untuk transenden dari yang fana. Dari sinilah kapitalisme Chairil bersumber.

Nisan, puisinya yang menandai debutnya sebagai penyair, yang ditulisnya pada usia 20, mengisyaratkan dahaga Chairil untuk mereguk air keabadian. Nisan ditulis untuk mengenang neneknya yang baru saja meninggal. Chairil tak habis pikir, mengapa neneknya menghadapi kematian dengan enteng-enteng saja? 

Padahal, dari sudut pandang empiris, kematian melenyapkan harapan bawah sadar manusia untuk menjadi abadi. Secara telak, kematian menyingkap hakikat manusia yang fana dan tak berdaya. Kematian—sekali lagi dari sudut pandang empiris—memastikan bahwa seluruh perjuangan manusia selama hidupnya berakhir sia-sia. Sungguh kenyataan yang absurd.

Renungan tentang “takdir” absurditas manusia ini dituangkan dalam puisi Chairil yang berjudul Penghidupan. Seperti halnya Nisan, Penghidupan ditulisnya pada usia 20.

PENGHIDUPAN

Lautan mahadalam 

mukul dentur selama 

nguji pematang kita 

hingga hancur remuk redam

Kurnia Bahagia 

kecil setumpuk 

sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk

Kematian, bagi Chairil, adalah lautan mahadalam yang selamanya berdentur-dentur memukul pematang moral kita—untuk mengujinya sedemikian rupa–hingga pematang moral itu hancur remuk redam. Kematianlah yang membuat kebahagiaan yang dibangun sejak lahir menjadi “sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk”. Lalu, jika semua usaha akan sia-sia, apa makna hidup ini?

Absurditas kehidupan memang mengherankan. Tapi, yang lebih mengherankan Chairil, mengapa neneknya bisa rida menerima segala yang tiba, termasuk kematian? Bukan tajamnya belati kematian, tapi keridaan neneknya untuk matilah yang benar-benar menusuk kalbu Chairil. Masalah inilah yang dia “ceritakan” dalam Nisan.

NISAN

 untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu 

dan duka maha tuan bertakhta

Sebagaimana diuraikan panjang lebar dalam Chairil Anwar Sebuah Pertemuan, pertanyaan seputar absurditas kehidupan terus membayangi Chairil hingga akhir hayatnya. Sebenarnya, pertanyaan tersebut merupakan efek samping saja dari dahaganya akan air keabadian, yang dalam literatur tasawuf dinamakan air kehidupan (ma-ul hayah; banyu panguripan). 

Dahaga akan keabadian bukan problem eksistensial yang secara eksklusif “menimpa” Chairil. Dalam hal ini, Chairil hanyalah sebuah eksemplar dari umat manusia secara kolektif sepanjang sejarah. Hingga taraf tertentu, seluruh manusia mencari keabadian—sering kali tanpa disadarinya. 

Keinginan manusia untuk kaya raya dan mendapatkan pasangan yang rupawan, setia, dan produktif membuktikan hal itu. Kehendak manusia untuk bekerja dan berkarya pun, sudah menandakan harapannya akan keabadian. Kita tentu masih ingat kredo literasi Pramoedya Ananta Toer: menulis untuk keabadian. Pendeknya, naluri ekonomi sebagaimana yang dijelaskan Karl Marx, hasrat seksual sebagaimana diteorikan Freud, dan kehendak untuk berkuasa sebagaimana dikemukakan Adler, yang kesemuanya itu merupakan modus eksistensi manusia secara bawah sadar, mencerminkan cita-cita tersembunyi manusia untuk menjadi abadi.

Kerinduan akan keabadian, yang oleh Seyyed Hossein Nasr disebut damba mistik dan yang dalam tulisan ini disebut damba spiritual, adalah fitrah atau kodrat manusia yang tak mungkin ditampik, dihindari, atau disingkirkannya. Kerinduan itu adalah energi meluap-luap yang melekat pada manusia bahkan menyatu dengannya. “Ia (Tuhan) menciptakan daku,” kata Omar Khayyam “dengan rasa cinta akan keabadian.” Dan keabadian ini sejatinya tiada lain adalah Tuhan, Yang Sempurna, Yang Mutlak, sekaligus Yang Tak Terbatas.

“Manusia,” tulis Nasr dalam Tasawuf dan Kelanggengan Damba Mistik (1970; 1996), “tidak bisa tetap sebagai manusia tanpa mendamba Yang Tak Terbatas dan tanpa berkeinginan mentransendenkan dirinya.” Nasr melanjutkan, “Tak ada wujud fana, tak ada benda—betapa pun mengalir tanpa putus—yang dapat memuaskan jiwanya (manusia). Semua keterangan di dunia ini yang siang malam diledakkan (ditunjukkan) kepadanya juga tak dapat mengambil alih tempat Yang Mutlak yang dicari akal pikirannya berdasarkan kodratnya.”

Bertolak dari premis mistik tersebut, Rumi menulis, “Waktu kau ditempatkan di dunia yang fana ini, tegaklah sebuah tangga sehingga kau memiliki cita-cita yang tinggi.” Menyatu kembali dengan Keabadian adalah cita-cita yang tinggi itu.

Dengan demikian, jelas sudah bahwa semua manusia, termasuk saya, Anda, dan Chairil, sejatinya merindukan keabadian. Bedanya, Chairil dengan kita adalah, sementara kita tidak menyadarinya karena kesibukan ini dan itu, Chairil menggumuli kerinduan ini dengan refleksi yang serius dan intensif, tanpa tergesa-gesa mencari penjelasan siap saji yang sudah dihidangkan agama.

Beda berikutnya, kita merasakan kerinduan akan keabadian secara samar-samar, antara ada dan tiada. Sementara itu, Chairil menyaksikannya secara terang-benderang. Implikasinya, dalam diri Chairil, timbullah gejolak dan pergolakan psikologis yang levelnya di atas rata-rata, seperti magma yang menggelegak dalam perut gunung berapi.

Karena itulah, dalam puisi berjudul Aku—yang juga dijuduli Semangat—Chairil menyatakan bahwa dia “mau hidup seribu tahun lagi. Biar pun peluru menembus kulitnya, dia tetap meradang-menerjang. Tak mau mau mati. Chairil menginginkan keabadian.

Mengapa damba spritual Chairil sampai sebegitu menggelegak? Saya tak tahu jawaban yang meyakinkan dari pertanyaan ini. Namun demikian, masa kecil dan remaja Chairil memberi kita isyarat jawaban. 

Chairil lahir setelah Perang Dunia Pertama di tanah yang dijajah Belanda, sebuah kerajaan yang relatif miskin dibandingkan negeri-negeri tetangganya di Eropa. Chairil kemudian dibesarkan dan dididik oleh keluarga yang remuk tetapi cukup sejahtera. Ayah dan ibunya terus-menerus bertengkar hingga bertahun-tahun. Mereka tak kenal damai, biar pun sejenak. “Keduanya,” kata Sjamsulridwan, teman dekat Chairil, “sama-sama galak, sama-sama keras hati, sama-sama tak mau mengalah.”

Chairil kecil, yang sedang butuh-butuhnya kehangatan, rasa damai, dan kasih sayang, tentu merasakan pertengkaran kedua orang tuanya tersebut sebagai penderitaan yang ingin dielak dan ditolak. Anak yang cerdas ini barangkali bertanya, mengapa aku dilahirkan dalam keluarga yang remuk ini? 

Hal itu menunjukkan bahwa Chairil sudah merasakan absurditas kehidupan sejak kecil. Dia sudah mengalami dahaga spiritual sejak dini sebelum teman-teman sebayanya. Alangkah malangnya.

Chairil memuaskan dahaga spiritualnya dengan berfoya-foya. Kebetulan bahwa kedua orang tuanya memanjakannya. Segala keperluan dan keinginan Chairil dituruti. Sjamsulridwan bertutur lagi, “Segala-galanya harus diadakan untuk Chairil: motor-motoran kanak-kanak, dan apalagi permainan atau kegemaran anak-anak, yang terbaik. Juga makanan.” Kebiasaan berfoya-foya ini dilanjutkan Chairil hingga dewasa, saat dia merantau ke Jakarta mula-mula untuk belajar, tetapi kemudian untuk hidup lontang-lantung akibat meletusnya Perang Dunia Kedua.

“Cinta sekolah rendah”, mulai dari cinta monyet sampai pergaulan bebas (vrijeomgang), adalah jalan kedua yang ditempuh Chairil untuk menyalurkan damba spiritualnya. Sejak remaja, dia sudah “bermain” cinta dengan perempuan, walaupun dengan cara yang tak biasa dilakukan orang dewasa, tetapi juga jauh berbeda dari cara yang biasa dilakukan teman sebayanya. 

Chairil melanjutkan permainan cintanya hingga dewasa. Saat di Jakarta, dia lebih leluasa menikmati aksi cinta sekolah rendahnya. Dia beberapa kali berganti pasangan. Akhirnya, Chairil memilih seorang perempuan untuk dinikahi. Tapi, rumah tangganya bermasalah.

Apakah melalui petualangan cinta sekolah rendah, dahaga Chairil akan keabadian terpuaskan? Ternyata tidak. Chairil sadar bahwa cinta sekolah rendah tak memberinya keabadian. Cinta seperti itu bukan jalan transendensi. Dalam puncak kenikmatan cinta pun, Chairil tetap teringat akan kefanaannya. Tetap dikejar-kejar ingatan tentang kematian. Sajak Mirat Muda, Chairil Muda, yang merekam adegan cintanya bersama Mirat, menggemakan kegelisahan Chairil tersebut.

… … … 

Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati

hilang secepuk segan, hilang secepuk cemas

menuntut tinggi, tidak setapak berjarak 

dengan mati

Bahkan, dalam percintaan pun, Chairil “hidup” seolah-olah bersama maut, yang tidak berjarak dengannya walaupun hanya setapak. Dalam cinta sekolah rendah, dia tak menemukan yang dicari-carinya: keabadian.

Manusia memang kerap gagal mencari keabadian, persisnya sering keliru menyalurkan damba spiritualnya. Nasr menerangkan, manusia Barat modern menyalurkan damba spiritualnya dengan menjelajahi ruang angkasa yang, apabila diamati secara empiris, tampak tak terbatas. 

Sains memperlihatkan bahwa ruang angkasa menyediakan bentangan kemungkinan bagi manusia untuk melampahi petualangan kodratinya mencari Yang Tak Terbatas. Tapi, apa manusia modern menemukan apa yang dicarinya? Apa dengan menjelajahi ruang angkasa kerinduannya akan keabadian terpenuhi?

Yang menyedihkan, manusia modern juga berusaha memuaskan dahaga spiritualnya dengan memakai narkoba. Saat mereka mengonsumsi barang jahanam itu, ada keinginan, entah sadar atau tidak, untuk transenden dari keruwetan kehidupan duniawi yang sarat masalah, cobaan, dan penderitaan. Manusia modern mencari surga, anehnya, dengan menikmati narkoba.

Surga, tempat indah yang saat ini masih berada di alam metafisik, memberikan kedamaian bagi para penghuninya, kemewahan psikis yang tak ditemukan di kehidupan dunia yang fana dan tak sempurna ini. Dan surga narkoba, karena dialami di kehidupan fana, pastilah surga yang palsu belaka, yang hanya bisa diakses sesaat.

Demikian pula cinta sekolah rendah yang dipetualangi Chairil. Cinta platonik memang merupakan suluk menuju keabadian sebagaimana telah dialami, direnungkan, dan dipaparkan oleh Gabriel Marcel, seorang filsuf eksistensialis Prancis. Sebaliknya, cinta sekolah rendah sama sekali tak menyuguhkan keabadian. Sesetia-setianya dan sebaik-baiknya kekasih Anda, cinta sekolah rendah adalah bagian dari kefanaan, yang suatu saat bakal lumat digilas maut.

Tak menemukan keabadian dalam gaya hidup berfoya-foya dan cinta sekolah rendah, Chairil mencarinya dalam seni, khususnya sastra. Tak jelas apakah sastra menjawab kegelisahan eksistensialnya ataukah tidak.

Namun demikian, Chairil terus menggubah puisi hingga menjelang ajalnya. Beberapa puisinya pun, misalnya Nisan, Diponegoro, Aku/Semangat, dan Derai-Derai Cemara, terbukti mengabadi. Puisi-puisi itu masih dibaca hingga sekarang. Padahal, Chairil telah wafat lebih setengah abad silam.

Seni, termasuk sastra, memang bagai oase di tengah kegersangan gurun religiositas. Seni, bahkan yang paling sekular sekali pun, menyediakan apa yang juga disediakan agama. Tapi, hal itu dicapai dengan jalan memutar, berliku, terjal, serta penuh jerat dan perangkap. 

Hanya mereka yang “berani menemu malam” yang kuat mengarungi lautan ganas seni demi mencari keabadian. Kita memiliki sastrawan yang senekat dan segila itu: Pramoedya Ananta Toer, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, dan tentu saja Chairil Anwar. 

Untuk mengobati dahaganya akan keabadian, Chairil lebih memilih jalan seni daripada jalan agama. Dia malah cenderung menjauhi agama. Usaha kerasnya untuk menjauhi agama ini merupakan pergumulan kejiwaan yang kelewat menarik untuk tak dibicarakan.

Dalam puisinya yang berjudul Sorga, Chairil tampil sebagai rasionalis dingin yang kritis dan sinis terhadap agama. Dia sempat meragukan keberadaan bidadari di surga, tampaknya juga meragukan keberadaan surga itu sendiri. 

SORGA

buat basuki resobowo

Seperti ibu–nenekku juga 

tambah tujuh keturunan yang lalu

aku minta pula supaya sampai di surga

yang kata Masyumi-Muhammadiyah

bersungai susu

dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku

nekat mencemooh: Bisakah kiranya

berkering dari kuyup laut biru

gamitan dari tiap pelabuhan gimana?

Lagi siapa bisa mengatakan pasti

di situ memang ada bidari

suaranya berat menelan seperti Nina, punya 

kerlingnya Yati?

Aku-lirik, yang secara hermeneutis sedikit banyak merupakan bayangan dari Chairil sendiri, tampil gagah—bahkan terkesan pongah—di depan agama. Kegagahan aku-lirik juga terlihat dalam puisi Chairil lainnya, Di Masjid. Bagi aku-lirik, masjid menjelma gelanggang perang tempat dia dan Tuhan saling membinasakan. Dari perspektif kaum beriman yang tak memahami biografi psikospiritual Chairil, tindakan aku-lirik tentu divonis sebagai pembangkangan yang tak termaafkan, yang wajib dilaknat habis-habisan.

DI MASJID

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kamipun bermuka-muka

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada

Segala daya memadamkannya

Bersimpuh peluh diri yang tak bisa 

diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binasa membinasa

Satu menista lain gila

Sebuas apa pun pembangkangan yang dilakukannya, perlawanan Chairil akhirnya patah juga. Dia akhirnya mencapai titik nol, yang di situ dia mengakui kekuatan, kekuasaan, kemutlakan, dan kemenangan Ilahi. Kiranya, di sinilah puncak pengembaraan Chairil mencari keabadian.

Pada momen itu, dia tampaknya merasakan apa yang di kalangan tasawuf disebut sebagai kondisi fana. Dalam cengkeraman kemutlakan Ilahi, dia merasa remuk dan hilang bentuk. Chairil mengaku, tak bisa berpaling dari pintu-Nya. Dia tak sanggup menjauh dari-Nya. Chairil mengabadikan pengalaman fana ini melalui puisinya yang berjudul Doa.

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk 

remuk

Tuhanku 

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku 

di pintumu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

Setelah lelah mengembara jauh ke negeri asing, ke tempat yang jauh dari cahaya suci, Chairil pulang ke kampung halaman rohaninya: Tuhan. Dia kalah. Dia menyerah. Dia pasrah kepada Tuhan, seperti neneknya dulu. 

Jangan lupa, sikap berserah diri total kepada Ilahi ini merupakan makna dari “Islam”, nama sebuah agama yang didakwahkan Nabi Muhammad. Jangan lupa pula, Islam adalah puncak pendakian spiritual para nabi. Chairil, karena itu, jelas sosok yang religius.

Berkat religiositas tersebut, tidak seperti dulu lagi, Chairil kini menyikapi hidup dalam kedamaian dan keheningan, meskipun mungkin sebentar muncul, sebentar lenyap. Simak dan resapilah nyanyi sunyi Chairil dalam puisi Derai-Derai Cemara, yang ditulisnya pada tahun 1949, tahun ketika dia wafat.

DERAI-DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah beberapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil sekarang sudah bisa tahan menghadapi amukan badai absurditas kehidupan yang bagai lautan mahadalam, dulu pernah menghantam pematang eksistensialnya hingga hancur remuk redam. Sekarang jiwanya telah kukuh, tak lagi seperti jiwa kanak-kanak yang rapuh.

Dia sudah merasa asing dengan cinta sekolah rendah. Sebab, “pelarian” tersebut tidak menyelamatkannya dari kejaran sang maut, tidak membuka jalan menuju keabadian. Chairil sadar: bukan kefanaan kenikmatan cinta sekolah rendah yang selama ini dicarinya. Bukan pula kemenangan setelah memecundangi Ilahi.

Sungguh suatu ironi yang misterius tetapi menggetarkan, jalan keabadian justru terhampar dengan mengambil sikap menyerah dan pasrah, hal yang bertolak belakang dengan watak Chairil yang penuh vitalisme. Meski demikian, jalan itu akhirnya ditempuh Chairil. Dia memosisikan kehidupan sebagai cara untuk menunda kekalahan yang pasti datang. Dia pun siap menerima kekalahan tersebut. Dia mungkin telah rela bila perjuangannya selama ini hanya diupah dengan kesia-siaan. 

Chairil sudah menyadari kelemahan dan keterbatasannya sebagai manusia. Dengan mata hatinya, Chairil agaknya sudah menyaksikan kodrat terdalam manusia yang rindu bersatu dengan keabadian. Potensi kodratiah itu justru terwujud dalam kehancuran total dan kekalahan mutlak dirinya. Dengan untaian imaji yang impresif dan evokatif, Hafiz menggambarkan kearifan ini dalam puisinya di bawah ini.

Ingatan akan bibirmu, dari pikiran orang yang bingung seperti diriku

Takkan bisa pergi, betapa pun penindasan langit atau pun duka derita usia

Hatiku tertawa oleh ikal rambutmu sejak dulu sebelum penciptaan

Takkan ada perlawanan sampai mati pun; takkan hancur perjanjian

Manusia tak mungkin mampu mengingkari janji tauhidnya pada Hari Alastu yang diucapkannya jauh sebelum ia dilahirkan. Saat itu, Tuhan bertanya kepada kita, “Alastu birabbikum?”, “Bukankah Aku Tuhanmu?”. Kita dulu menjawab, “Tentu. Kami bersaksi demikian”.

Pada ujung hidupnya, Chairil kembali meneguhkan janji primordial tersebut. “Chairil meninggal,” tulis H.B. Jassin dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45 (1982), “dengan tidak lupa kepada Tuhan. Meskipun dia dalam masa akhirnya mengigau oleh karena tinggi panas badannya, pada saat-saat dia insyaf akan dirinya, dia selalu mengucapkan: Tuhanku, Tuhanku ….”

Widodo, masyarakat biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *