Celana Dalam

Kolom

Jika ada satu hal yang harus saya sesali saat melewati masa sekolah dulu, itu adalah: Saya tidak sempat merasakan mondok di pesantren. Mungkin karena almarhum ayah saya Muhammadiyah, sehingga memondokkan anaknya di pesantren barangkali bukan termasuk yang beliau rencanakan.


Tetapi, saat Aliyah dulu, banyak sekali kawan yang mondok. Hingga sekarang pun, saya tak pernah kurang mendapat kawan-kawan yang jebolan pondok pesantren, bahkan gus-gus dari pondok yg beken. Jadi, saya banyak tahu kisah-kisah “kenakalan” mereka saat nyantri. Salah satu yang sering teringat adalah ini:

Sebut saja Ahmad, mondok di Pandanaran, Jogja. Ia mengaku sering kehabisan celana dalam karena tak rajin mencuci. Dan apa yang dilakukannya? Ia sering kali mengambil acak celana dalam di jemuran, lalu dipakainya. Beberapa hari berikutnya, setelah mencucinya, ia kembalikan lagi ke tempat semula.

Kukira, cukuplah “kenakalan-kenakalan” yang model begini yang “terwariskan” kepada anak-anak kita. Jangan narkoba, kriminal lainnya, bahkan sikap durhaka.

Selamat Hari Santri.

Wawan Arif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *