Ketika Wayang Bertasbih

Artikel

Siapa sangka, wayang kulit yang dibidah-bidahkan itu ternyata mengajarkan makna tasbih dengan gaya yang indah dan cara yang tak menceramahi. Makna tasbih tersebut tersirat dalam biografi Togog, Semar, dan Betara Guru.


Menurut sebuah versi pakem lakon wayang, ketiganya merupakan putra kandung Sang Hyang Tunggal, adiraja yang menguasai sekaligus tiga alam, yaitu alam dewa, alam manusia, dan alam raksasa. Jauh sebelum menerima anugerah amanah kepamongan dari Sang Hyang Tunggal, mereka merupakan pemuda yang rupawan dan gagah perkasa. Waktu itu Togog masih bernama Sang Hyang Antaga, Semar masih bernama Sang Hyang Ismaya, dan Betara Guru masih bernama Sang Hyang Manikmaya.

Sebagai pemuda berdaya hidup tinggi, mereka merasa sudah sempurna. Karena itu, manakala Sang Hyang Tunggal menyatakan bahwa dia akan menyerahkan takhta kepada keturunannya, baik Antaga, Ismaya, maupun Manikmaya merasa sama-sama pantas dan berhak mewarisi takhta tersebut.

Akibatnya gampang ditebak: mereka bertarung demi merebut takhta. Adakalanya pertarungan itu berlangsung secara diam-diam. Adakalanya pula “perang saudara” tersebut dilakukan secara terbuka dan terang-terangan. Misalnya saja, sebuah perang yang melibatkan Antaga dan Ismaya.

Perang yang mereka gumuli tersebut unik. Sebenarnya juga konyol. Dalam perang itu, tidak terdengar denting pedang yang saling beradu. Tidak ada adegan perut yang tertusuk tombak atau kepala yang terhantam gada. Antaga dan Ismaya hanya bikin taruhan. Siapa sanggup menelan habis Gunung Mandaraka, dialah yang memenangkan peperangan. Dia pula yang berwenang mewarisi jabatan raja tiga alam.

Antaga dapat giliran pertama untuk menguji kemampuan. Dia mengerahkan segenap kesaktian dan kedigdayaan. Akan tetapi apa daya, jangankan menelan habis Gunung Mandaraka, mengunyah separuh gunung saja dia sudah gagal. Selain gagal, penampilan Antaga pun berubah drastis. Ketampanannya hilang. Dia menjadi buruk rupa. Perawakan Antaga menjadi serba tak sedap dipandang. Yang paling grotesque adalah mulutnya. Akibat mengunyah bebatuan gunung, bibir Antaga melebar dan sobek.

Ismaya tak ambil pelajaran dari kegagalan Antaga. Jiwa mudanya haus pengakuan dan kekuasaan. Dia begitu percaya diri dapat memenangkan taruhan. Maka, Ismaya pun mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menelan Mandaraka. Hebat, dia ternyata berhasil. Gunung Mandaraka, dari kaki sampai puncaknya, teronggok bulat-bulat dalam perut Ismaya. Akan tetapi, kemudian timbul masalah musykil. Ismaya tak bisa mengeluarkan kembali gunung itu melalui mulut atau pun duburnya.

Menjadi sarang Mandaraka, perut Ismaya menggelembung sehingga ukuran perutnya tak proporsional lagi dengan ukuran tubuhnya. Seperti halnya Antaga, Ismaya pun kehilangan ketampanan. Tampangnya kini sama jeleknya dengan tampang Antaga. Karena perubahan tampang ini, kakak beradik tersebut menyesal bukan kepalang.

Saat itu, Sang Hyang Tunggal tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Dia menasihati anak-anaknya yang telah berperilaku kelewat batas. Antaga dan Ismaya sadar. Sadar akan kesalahan masing-masing. Sadar akan ketidaksempurnaan masing-masing.

Sang Hyang Tunggal lalu memberi mereka nama baru, pertanda bahwa mereka kini terlahir kembali sebagai makhluk yang baru, yang telah menanggalkan kebodohan dan mencapai kesadaran. Antaga menjadi Togog. Ismaya menjadi Semar.

Sang ayah juga meletakkan amanah berat di pundak mereka. Togog ditugasi sebagai pamong bagi pemimin-pemimpin jahat semacam Duryudana. Sementara itu, Semar diutus untuk menjadi pamong bagi pemimpin-pemimpin baik seperti Puntadewa. Konsekuensinya, mereka harus meninggalkan alam dewata dan tinggal di alam manusia.

Mendengar berita “kejatuhan” Antaga dan Ismaya, Manikmaya girang. Sekarang dia melenggang tanpa pesaing. Dapat dipastikan bahwa takhta tiga alam bakal jatuh ke tangannya. Dan, pikiran ini membuatnya bangga. Bangga secara berlebihan. Dia merasa paling hebat, paling tinggi, paling besar, dan paling sempurna.

Justru dari situ malapetaka bermula. Dalam suatu perjalanan yang melelahkan, dia merasa amat haus. Untung saja, dia segera menemukan sumber air. Tanpa berpikir lagi, dengan rakus Manikmaya langsung meneguk air sebanyak-banyaknya. Setelah tegukan terakhir, dia merasakan sesuatu yang aneh pada lehernya. Lehernya menjadi belang. Itulah cacat pertama Manikmaya yang tak tersembuhkan sepanjang hayat.

Cacat kedua adalah taringnya. Alangkah malunya apabila dewa memiliki taring seperti raksasa. Taring Manikmaya tumbuh dari kutukan. Awalnya, dia marah besar kepada istrinya. Akan tetapi, Uma, istrinya itu, tidak terima dimarahi lalu mengutuk Manikmaya yang memiliki sifat pemarah seperti raksasa. Dan, taring merupakan simbol keraksasaan.

Manikmaya memperoleh cacat ketiganya ketika menyaksikan bayi manusia. “Manusia ini,” ujarnya sambil memperhatikan si bayi, “lemah betul.” Gara-gara ucapan sesepele itu, Manikmaya diganjar kutukan berikutnya: kakinya tiba-tiba jadi lemah, tak mampu lagi menopang tubuhnya.

Cacat terakhir Manikmaya juga dia peroleh saat menyaksikan manusia. ceritanya, seorang lelaki yang mengenakan baju lengan panjang kedodoran, sedang berdoa. Manikmaya tertawa, kemudian berkomentar dalam hati, “Tangannya empat”. Langit menilai keliru perilaku Manikmaya. Sebagai hukuman, pada tubuhnya tumbuh dua tangan tambahan.

Sempurnalah ketidaksempurnaan Manikmaya. Dia memang dewa. Akan tetapi, Manikmaya adalah dewa yang berpenampilan memalukan: leher berbelang, mulut bertaring, tangannya empat, dan kakinya lumpuh.

Saat Manikmaya dirundung rasa rendah dan bersalah, Sang Hyang Tunggal mendadak muncul. Anehnya, dia memasang mahkota tiga alam di kepala Manikmaya yang kini bergelar Betara Guru. Sang Hyang Tunggal menilai bahwa Manikmaya sudah pantas dan mampu mengemong tiga alam justru karena putranya itu merasa tak pantas dan tak mampu.

Tanpa sekalipun menyebut kata “tasbih”, lakon ini sebenarnya mengajarkan makna tasbih. Bukan tasbih yang dirapal dengan lidah yang sering kali palsu dan hampa, melainkan tasbih yang hidup dan bergerak, yang menyatu dengan darah dan daging. Seorang hamba yang rajin merapal tasbih belum tentu memiliki mentalitas tasbih. Bagaimana mentalitas tasbih itu?

Kita tahu, formula tasbih berbunyi subhanallah dengan arti harfiah ‘Mahasuci Allah’. Ini kalimat bersahaja yang mengandung berlapis-lapis makna. Tuhan suci dari kesalahan, keburukan, kekurangan, kecacatan, kekhilafan, dan pelbagai bentuk ketidaksempurnaan lain. Tuhan suci dari prasangka buruk kita terhadap-Nya. Tuhan, dengan demikian, adalah kesempunaan mutlak yang tiada bandingan dan saingan.

Mafhum mukhalafah-nya, sejauh dipandang dari perspektif kesujudan manusia, bukan dari perspektif kemahaan Ilahi, kita merupakan wadah ketidaksempurnaan. Kalau kita sempurna dan Tuhan pun sempurna, maka kita menyaingi Tuhan. Padahal, lam yakun lahu kufuwan ahad; Dia tak memiliki satu pun pesaing. Tidak ada yang sepadan dan sebanding dengan-Nya.

Penalaran ini mengandung implikasi implisit bahwa merasa sempuna merupakan syirik halus. Merasa sempurna itu sendiri adalah wajah lain dari kesombongan. “Kesombongan,” firman Allah dalam salah satu hadis qudsi, “adalah sorban-Ku dan keagungan adalah selendang-Ku. Siapa pun yang merampas keduanya dari-Ku akan Kulemparkan ke dalam api neraka lalu Aku tak peduli lagi.”

Dengan demikian, lebih dari sekadar merapal subhanallah dengan lidah, tasbih adalah perasaan rendah di hadapan Sang Sempurna (Realitas Sejati). Perasaan rendah inilah yang tepercik di hati Semar, Togog, dan Betara Guru setelah mereka kehilangan selamanya apa yang mereka sangka sebagai kesempurnaan. Adalah suatu paradoks bahwa saat merasa sempurna, mereka jauh dari Sang Sempurna. Sebaliknya, saat merasa tak sempurna, mereka justru tenggelam dalam lautan cahaya Sang Sempurna.

Sang Hyang Tunggal menyaksikan cahaya ilahiah yang meliputi mereka. Maka, tokoh wayang yang dapat ditafsirkan sebagai simbol al-Ahad itu menganugerahkan amanah kepamongan kepada Togog, Semar, dan Betara Guru. Setelah “menemukan” kualitas kehambaan, mereka diangkat sebagai khalifah dalam konteksnya masing-masing. Togog mengkhalifahi pemimpin-pemimpin berjiwa durjana. Semar mengkhalifahi pemimpin-pemimpin berjiwa luhur. Dan, Betara Guru mengkhalifahi seluruh makhluk di tiga alam.

Demikianlah, makna tasbih disampaikan secara indah melalui wayang kulit. Untuk ini, kita harus berterima kasih kepada para wali sufi tanah Jawa yang telah sedemikian rupa mengembangkan wayang kulit menjadi kesenian Islam yang adiluhung. Lahum al-Fatihah….

Widodo, masyarakat biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *