Abid Al-Jabiri dan Epistemologi Nalar Arab

Artikel

Dalam dekade terakhir ini tren pemikiran Islam baru telah mewarnai sejarah pemikiran Islam. Di mulai sejak abad XIX, pada masa itu muncul beberapa orang yang memiliki gagasan dan pemikiran untuk membangkitkan Islam. Keruntuhan kerajaan dan meningkatnya ilmu pengetahuan Barat membuat Islam semakin tersudutkan. Atas dasar itulah para pemikir muslim di abad XIX – XX mencoba memikirkan bagaimana Islam itu bisa bangkit lagi.


Abid Al-Jabiri merupakan salah satu tokoh yang mempunyai keinginan seperti itu. Nama Abid Al-Jabiri bisa disejajarkan dengan tokoh-tokoh pembaharu lainnya dari Timur Tengah seperti Sayyid Qutb, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridla, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, Syahrur, dan masih banyak lagi. Namun demikian, dari semua pembaharu tersebut bisa diklasifikan lagi berdasarkan cara dan strategi yang mereka lakukan. 

Meskipun demikian, upaya yang mereka lakukan itu sama-sama ingin mengembalikan kejayaan Islam. Kejayaan tersebut bisa dicapai, misalnya, dengan memadukan Islam dengan modernitas; Islam vis a vis moderntias; dan cara-cara lainnya.

Di antara sekian pemikiran dan strategi untuk mengembalikan kejayaan Islam, Abid Al-Jabiri menggunakan pendekatan keilmuan Barat untuk meneropong apa yang terjadi di dunia Islam. Al-Jabiri menggunakan pendekatan posstrukturalis untuk melihat tradisi yang ada di dunia Arab. Dari hasil bacaannya tersebut, Al-Jabiri sampai berkesimpulan bahwa terdapat tiga nalar epistemologi yang mendominasi di dunia Arab; nalar bayani, nalar burhani, dan nalar irfani. Pemikiran Al-Jabiri terkait nalar Arab tersebut dimuat dalam trilogi magnum opus kitabnya yang berjudul Takwin Al-Aql Al-Arabi, Bunyah Al-Aql, dan Al-Aql Al-Siyasi Al-Arabi.

Latar historis yang mendasari pemikiran Al-Jabiri dikarenakan ialah bahwa ia menemukan sebuah fakta yang mengenaskan dalam diskursus pemikiran Arab. Kesadaran mereka terhadap urgensi kebangkitan tersebut tidak bersumberkan dari realitas dan pergerakannya, alternatif perubahannya, ataupun orientasi perkembangannya. Mereka mendapatkan semangat kebangkitan itu dari perasaan yang berbeda dengan pihak lain, yaitu bangsa Barat modern. Akibatnya, sampai saat ini diskursus kebangkitan Arab tidak berhasil meraih kemajuan dalam merumuskan cetak biru proyek kebangkitan peradaban.

Al-Jabiri hadir di tengah persoalan besar tersebut dengan memberikan gagasan dan pemikiran yang diawali dengan mendefinisikan dan mengklasifikasikan nalar Arab itu sendiri. Al-Jabiri menarik batas untuk tidak membahas terkait nalar Islam. Baginya, yang menjadi problem ialah nalar masyarakat Arab itu sendiri, bukan dari nalar Islam. 

Al-Jabiri mengartikan nalar Arab dengan meminjam teori Lalande tentang diferensiasi antara al-‘aql mukawwin dengan al-‘aql al-mukawwan. Al-‘aql al-mukawwin adalah nalar murni sedangkan al-‘aql al-mukawwan adalah nalar manusia yang sudah dibentuk oleh budaya masyarakat tertentu tempat orang tersebut hidup. Pengertian yang kedua inilah yang dimaksud oleh Al-Jabiri sebagai nalar Arab. Dengan melakukan diferensiasi atas nalar Arab, maka yang dilakukan ialah membongkar dan menggali lapisan terdalam rancang bangun pemikiran Arab untuk mengungkapkan kekurangan epistemologi kemudian membenahinya atau bahkan mencarikan alternatifnya.

Mula-mula Al-Jabiri mengklasifikasikan epistemologi nalar Arab menjadi tiga, yaitu bayani, irfani, dan burhani. Epistemologi bayani adalah metode pemikiran yang menekankan otoritas teks dan dijustifikasi oleh logika penarikan kesimpulan. Menurut Al-Jabiri, nalar bayani terdapat dalam kajian ilmu kebahasaan, nahw, teologi, dan ilmu balaghah

Sumber utama nalar bayani ini menempatkan teks dijadikan sebagai sumber utama dalam bangun epistemologi bayani. Dengan kata lain, bahasa menempati posisi strategis dalam epistem ini. Menurut Herder, seorang pemikir Jerman, setiap masyarakat bertutur sebagaimana mereka berpikir dan berpikir sebagaimana ia bertutur. Oleh karena itu, Al-Jabiri menggarisbawahi bahwa bahasa Arab menjadi instrumen penting yang memengaruhi cara pandang manusia dan menduduki posisi sentral dalam bangunan keilmuan Arab. 

Persoalan yang timbul dalam nalar bayani yaitu ketika berhadapan dengan perkembangan zaman. Para teolog akan kesulitan untuk mencari padanan kata untuk menyelesaikan persoalan umat Islam. Oleh karena itu, Al-Jabiri kemudian menawarkan adanya kodifikasi bahasa, dari bahasa Arab yang tidak ilmiah kepada bahasa ilimiah. Hal ini dilakukan tidak hanya penciptaan ilmu baru, yakni bahasa Arab, tetapi juga penciptaan bahasa baru yakni bahasa Arab fushah.

Selanjutnya ialah nalar irfani. Nalar irfani, menurut Al-Jabiri, pengetahuannya didasari pada kasyf, yaitu tersingkapnya rahasia-rahasia oleh atau karena Tuhan. Oleh karena itu, irfani tidak diperoleh melalui analisis teks tetapi dari hati nurani yang suci, sehingga Tuhan menyingkap sebuah pengetahuan. Nalar irfani ini tumbuh subur di era Hellenis dan berkembang di dataran Mesir, Suriah, Irak, dan Palestina.

Al-Jabiri kemudian membagi irfani menjadi dua yaitu sebagai sikap dan teori. Irfan sebagai sikap diartikan sebagai upaya seseorang untuk cenderung bersikap lari dan menyerah pada hukum positif manusia. Dalam perkembangannya, irfan sebagai sikap ini banyak dilakukan dari kalangan sufi dan ashab al-ahwal, sementara irfan sebagai teori direpresentasikan oleh para irfaniyun dari kalangan Syiah pada umumnya, Syiah Ismailiyah, dan khususnya para filsuf batiniah. Hanya saja, Al-Jabiri juga mengatakan bahwa pembedaan tersebut tidaklah mutlak. Meskipun demikian, nalar irfani juga memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam. Persebarannya bisa dilacak dari akar historisnya hingga hari ini. 

Yang terakhir ialah nalar burhani. Nalar burhani adalah pengembangan dari filsafat Yunani, terutama filsafat Aristoteles yang masuk di dunia Arab-Islam. Nalar burhani mendasarkan kebenaran pada rasio. Pengambilan kesimpulannya secara deduktif, sebuah kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis. Itulah apa yang dimaksud dengan model silogisme.

Fungsi dan peranan akal dalam epistemologi burhani tidak digunakan untuk mengukuhkan kebenaran teks seperti dalam nalar bayani, tetapi lebih ditekankan untuk melakukan analisis dan menguji terus-menerus kesimpulan-kesimpulan sementara dan teori yang dirumuskan lewat premis-premis logika keilmuan. Tolok ukur validitas epistemologi burhani ialah korespondensi yaitu kesesuaian antara rumus-rumus yang diciptakan oleh akal manusia dengan hukum-hukum alam, juga ditekankan pada aspek koherensi, yaitu keruntutan dan keteraturan berpikir logis, serta upaya terus-menerus yang dilakukan untuk memperbaiki dan menyempurnakan temuan-temuan, rumus-rumus, dan teori-teori yang telah dibangun dan disusun oleh akal manusia.

Ketiga nalar Arab di atas mendominasi cara berpikir masyarakat Arab. Akan tetapi, ketiga nalar tersebut, menurut Al-Jabiri, tidak menafikan satu sama lain, namun hubungan ketiganya dialektis-antagonistik, sehingga terjadilah bentuk sirkular di antara ketiganya. Antara epistemologi dan lainnya akan saling mengoreksi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dengan demikian, ada tawaran yang diberikan oleh tradisi keilmuan dalam rangka memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang ada.

M Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *